Thursday, December 13, 2018

Keistimewaan Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

Beberapa hari yang lalu, baca curhatan seseorang di IG story tentang tantangan hidup(?) sebagai bumil. Aih, jadi kangen hamil lagi nostalgia. Masa-masa yang romantis, indah, sekaligus juga bisa menguji karena namanya hamil, semudah apapun tetap saja 'wahnan 'ala wahnin', kelemahan yang bertambah-tambah.

Hamil muda, mabok. Hamil tua, susah gerak. Hihihi.

Masih inget deh 'rasanya' harus tiap sebentar ke kamar kecil pagi-siang-malam. Belum lagi menjelang melahirkan, bisa kebangun jam 1-2-3 dini hari saking kantung kemih udah tertekan bayi. Mau tidur pun perlu perjuangan cari posisi yang nyaman. Mau pasang kaos kaki sendiri bisa akrobat dulu karena kehalang perut. Belum lagi bentuk tubuh yang berubah drastis bikin selera ngaca berkurang drastis *lebay amat bun, hihi..

Tapii..

Dibalik segala kelemahan, kerempongan, sungguh ada kenikmatan tersendiri. Bila Ia mengizinkan kita untuk menyadari, sungguh ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan.

Saya menganggapnya begini, kalau kita niatkan hamil, melahirkan, menyusui karena untuk mencari keridahaan Allah maka insyaAllah akan tercatat sebagai ibadah. Artinya, sepanjang hamil-melahirkan-menyusui malaikat akan terus sibuk mencatat amal di tiap detiknya. Dan bagaimanakah seharusnya rasa hidup bila malaikat terus mencatatkan kebaikan? Apakah nelangsa? Atau justru penuh rahmat?

Maka ga berlebihan rasanya, saat selesai menyapih anak pertama dulu, yang artinya saya melepas 'predikat' sebagai busui apalagi bumil, ada rasa janggal dalam diri. Usai sudah amalan besar tiap wanita yang diharapkan bisa jadi jalan datangnya rahmat Allah dalam kehidupan. Rasanya seperti ada yang 'hilang'. Padahal dulu jeda antara selesai menyapih si kakak dengan hamil anak kedua (cuma) tiga bulan. Tapi terasanya kayak lamaaa.. Saya ingat sampe bilang ke suami, "Yah, saat bukan lagi jadi bumil atau busui, aku kok ngerasa ada yang kurang. Ada rasa 'lengkap' saat lagi hamil maupun menyusui." 

Iya, hamil memang melemahkan. 
Betul, menyusui memang butuh pengorbanan.
Tapi rasa tenang, rasa dibutuhkan, rasa dicintai itu melebihi semuanya. 

It's just magical knowing that someone needs you so deeply, and love you unconditionally. 

Semoga tiap ibu bisa merasakan kenikmatan dibalik tiap peran, dengan meniatkan dan mengusahakan tiap peran hanya karena untuk mengharap keridhaan Allah.

Dan bagi yang sedang dalam penantian untuk bisa merasakan peranan tersebut, semoga Allah mudahkan dan jadikan tiap detik juga bernilai pahala karena istimewanya kesabaran.

*lalu terngiang backsound request Kakak Asiyah beberapa hari yang lalu, "Asiyah mau adeknya seribuuuu, Bunda.. Seribuuuuu" Heuuu.. 


ceritanya babymoon pertama

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14).

Thursday, November 8, 2018

Emotional Stability

Dalam hidup ga selalu kita ketemu situasi yang menyenangkan hati.
Tapi percaya aja, kadang hal-hal membingungkan, menyebalkan, meng-spicles-kan, hadir dalam hidup kita untuk kebaikan kita sendiri.

Seenggaknya buat bahan belajar tentang mengontrol emosi, melatih kestabilan emosi.

Misal abis ketemu orang yang yang menguji kesabaran, coba kasih udzur, mungkin dia abis menghadapi hari yang berat. Bawa hepi aja, jangan bawa ke hati. Ya ga?

Senyumin aja, yes. Inget kebaikannya aja.






Thursday, November 1, 2018

You Start

Hari ini diingatkan kembali, melalui kajian ust haikal (babe haikal), random aja nyari di yutub. Qadarallah, mencerahkan. Banget.

Beliau bilang, orang tua kayak gimana yang paling dibutuhin di zaman sekarang? Jamaah menjawab aneka ragam. Mulai dari yang bisa ngajarin ngaji, yang selalu ada, dsb dkk dll.

Semua fatal error, katanya. Bukan itu.

Anak-anak butuh orang tua yang.. pelawak. Bahasa lainnya, orang tua yang menyenangkan.

Saya tertampar. Sudah seberapa sering saya 'melawak' di depan anak? Apakah selama ini cuma banyak menuntut atau percakapan banyak diisi oleh urusan routines (semacam yuk sikat gigi, ayo makan, dsb)? Hiks

Pas banget reminder ini. Ceritanya saya diambang keluhan terhadap mood swingnya kakak beberapa hari ini (yang dicurigai akibat kangen ayah dan sariawan). Maka setelah dapat fresh reminder ini, saya mencoba mengubah approach. Saat kakak sampe rumah sehabis diajak jalan oma-opa, saya coba lebih playful. Intonasi, tatap wajah, gesture, isi pembicaraan saya coba sesuaikan. Bikin suasana lebih cair gitu. Dan benarlah, mood kakak pun jadi sangat baik. No drama sampai tidur malam. Ah, jangan-jangan sebelumnya kakak moody karena bundanya juga tegang kali ya. Jadi vicious cycle deh.

Saya jadi teringat akan dua softskill yang menjadi pe-er; humor dan story telling. Harusnya kondisi saya masih diuntungkan dengan keadaan anak-anak masih kecil, masih relatif mudah dibikin ketawa. Ketimbang dikejar atau dikelitikin juga udah bikin hati mereka gembira. Tinggal gimana menjadikan sikap playful, cheerful, dan jenaka ini bisa melekat jadi budaya.

Kadang kita sibuk menuntut, menudingkan jari ke orang lain, sampai lupa kalau peran kita pun besar. Komunikasi itu mengalirkan energi. Bila energi besar dan positif, maka maka anak-anak akan merasakannya. Dan sebaliknya.

Kalau orang tua adalah benda, dan anak-anak adalah bayangannya. Maka sibuklah memperbaiki bendanya, niscaya bayang-bayang akan mengikuti dengan sendirinya.

Kalau anak ibarat pantulan di cermin. Maka fokuslah memperbaiki diri, gambaran di cermin akan otomatis mengikuti.

Kurang lebih begitu lesson learnt hari ini.

Got it?

Then do it.

/Bunda
23.00

Wednesday, October 31, 2018

Saat Ayah Konfrens

Rasanya udah lamaaa banget ga nulis disini. Banyaakk banget yang terjadi di dunia nyata, pengen dibahas tapi bisi belibet jadi ditunda mulu. Heu. Daripada dipendem terus, sedangkan menulis adalah salah satu media ampuh untuk ngelurusin pikiran(?), maka biarlah sebelum tidur ini saya mau nulis aja sengalirnya. Okeh, lanjut.

Sekarang akhir oktober, pak suami lagi konfrens ke cina seminggu. Masih ada 3 hari lagi sampe insyaAllah kembali ke swedia. Dan percayalah, walaupun ada mama papa yang lagi main kesini, tetep aja tanpa pak suami ada yang kurang rasanya.

Kangen, pasti. Tapi ada yang lebih wow lagi. Yakni, kakak asiyah kena malarindu akut sama bapaknya. Nyariin ayah mulu, "asiyah miss ayah, ayah lama banget ke cina nya. Maunya peluk ayah sekarang. Mau bobo sama ayah." Dsb dkk dll. Kalah deh abege pacaran juga.

Kakak asiyah juga lagi sariawan, kok pas banget sama pas ayah ga ada. Sariawannya ada beberapa. Jadi susah makan, ngomong juga susah. Jangan tanya effortnya untuk nyikatin gigi. Hiks kasian deh. Nasib ya nak nak. Udah lah malarindu, sariawan pula.

Karena dua hal itu, belum lagi kalo plus ngantuk atau kecapean, moodnya jadi lebih fragile. Heu. Jadi ibu emang cara ampuh mendidik diri sendiri deh. Kita ditempa dengan cara-cara 'sederhana' (peristiwa sehari-hari), tapi efeknya luar biasa. Ga perlu training self mastery lagi deh kalo lulus ngasuhin balita. Wkwkwk.

Semoga Kakak Asiyah cepet sembuh, aamiin.

PS= Ayah, semoga lancar konfrensnya, banyak yang menanti di rumah. We love you so so so much!

/Bunda
22.25

Monday, October 15, 2018

Moto

I'm here to learn.

Begitulah kurang lebih moto perkuliahan yang baru kepikiran diluapkan dalam kata-kata di semester ini. Selama ini ya kuliah-kuliah aja, ga pake moto(?).

Tapi berasa manfaat sih mengeksplisitkan suatu hal yang abstrak atau tadinya cuma ada dalam hati doang. Biar ga kebawa arus yang menggerus niat. Biar inget ga perlu merasa kepinteran, show off, etc dkk dll. Kosongin dulu gelasnya.

Cause, I'm here to learn.