Monday, October 15, 2018

Moto

I'm here to learn.

Begitulah kurang lebih moto perkuliahan yang baru kepikiran diluapkan dalam kata-kata di semester ini. Selama ini ya kuliah-kuliah aja, ga pake moto(?).

Tapi berasa manfaat sih mengeksplisitkan suatu hal yang abstrak atau tadinya cuma ada dalam hati doang. Biar ga kebawa arus yang menggerus niat. Biar inget ga perlu merasa kepinteran, show off, etc dkk dll. Kosongin dulu gelasnya.

Cause, I'm here to learn.

Thursday, September 27, 2018

Catatan dari Kajian Teh Haneen Akira - Baperan

"sifat walinya Allah, mereka ga takut. laa khauf."

"semua orang punya hati, tapi ga semua orang hatinya hidup."

"ketika kita menghargai alquran, Allah hargai kita.
ketika kita memuliakan alquran, Allah muliakan kita.
ketika kita menjaga diri dengan ayat-ayat alquran, Allah yang jaga kita.
kalau kita melupakan alquran, lihat saja bagaimana alquran melupakan kita.
ketika kita abaikan alquran, boleh dicoba bagaimana rasanya Allah mengabaikan kehidupan kita."

"barangsiapa yang berpaling dari dzikrurabbi (alquran), maka ia akan memiliki kehidupan yang sangat sempit. barangsiapa yang berpaling dzikrurrahman (Allah), isi hatinya cuma baper/perih/pedih."

"karena yang disini (hati), butuh alquran.
yang disini (hati) bisa tumbuh, bisa segar, bisa menemukan habitatnya dengan alquran.
yang mengerti keagungan alquran maka ga akan pernah meninggalkan alquran.
yang mengerti manfaat, keberkahan, kebaikan alquran, maka ia tidak akan pernah tinggalkan alquran."

"kalo kita meninggalkan alquran, kita akan seperti ikan yang dipisahkan dari airnya."

- quotes dari kajian Teh Haneen Akira

**

memanglah, kalau Allah sudah mengizinkan kita pernah merasakan manisnya alquran. merasakan nyamannya tilawah, merasakan tenangnya hari-hari saat lisan kita akrab dengan alquran, maka saat gelombang ujian datang dan mengancam hubungan kita dengan alquran, sekuat tenaga kita akan berusaha meraih kembali romantisme dengan alquran.

ya Rabb, tidak ada kemudahan selain apa-apa yang Engkau mudahkan.. kembalikanlah kami pada alquran, tuntun kami dalam keistiqamahan..








Monday, September 24, 2018

Menjadi Muslim

Kadang kita kira kita punya pilihan, untuk berkelit, untuk menghindar. Tapi nyatanya, menjadi muslim artinya adalah berserah diri. Submitting ourselves to the Creator.

Menjadi muslim artinya menyerahkan diri kita, keputusan-keputusan dalam hidup kita, hal-hal yg kita sukai, hal-hal yg kita benci, hanya kepada Allah, sesuai dengan yang diinginkan-Nya.

Menyerahkan diri kita, bakti kita, hidup kita hanya kepada Allah. Itulah makna muslim yg sesungguhnya.

Maka sudah sepantasnya kita mengevaluasi diri, lagi dan lagi, apakah sudah sesuai kita menyebut diri sebagai seorang muslim?

Apakah sudah selaras perbuatan, ucapan, maupun kata hati kita sebagai seorang muslim?

Ini bukanlah hal yg dilakukan sekali maka selesai, melainkan terus-menerus. Karena ujian akan terus datang selama kt hidup, garis finishnya nanti saat malaikan maut datang menghampiri.

Semoga yg terbaik bagi usia kita adalah diakhirnya.

_pengingat untuk diri sendiri_

Tuesday, September 4, 2018

Kuliah dan berkeluarga?

A= "bismillah ya, Bunda. Diniatin untuk cari ilmu, untuk ibadah.." nasihat suami di hari pertama kuliah (lagi)

B= "gitu ya ayah, tapi aku ga ngorbanin dede kan?"

A= "gak lah bunda, lagian dede kan dipegang sama aku. Dia juga udah cukup gede."

Ah, Allah emang paling tahu kondisi hamba-Nya. Apalah jadinya saya ini tanpa keluarga kecil ini, tanpa dukungan suami. Bisa dibilang beliaulah 'dalang' dari nyemplungnya saya kuliah lagi. Mulai dari ngingetin jadwal-jadwal akademik (course registration, jadwal kuliah, dsb), nge-email course administrator, sampe nge-email course secretary demi dapet jadwal ramah anak. Huhuhuhu.

Beberapa orang yang tahu saya udah punya suami-anak nanya, 'hahhh gak ribet tuuh kuliah sambil ngurus orang lain juga? Aku ngurus diri sendiri aja udah rempong'.

Memang, akan ada perjuangan lebih, akan ada waktu tidur yang lebih sedikit, akan ada waktu senggang yang terpangkas. Tapi ga terasa memberatkan kalo kita ga melihatnya sebagai beban. Justru, sejujurnya yang saya rasakan adalah kebalikannya. Saya ga bisa membayangkan kuliah tanpa mereka, tanpa senyuman tulus anak-anak, tanpa bantuan suami, tanpa pelukan mereka.

Allah tahu saya ini gampang tersedot sama satu urusan, katakanlah gampang terlalu ambisius sama kuliahan. Nah mereka adalah penyeimbang dunia saya. Kalo lagi terlalu absorb sama urusan akademik, ngeliat mereka saya jadi serasa diingatkan bahwa duniamu ga mentok di tugas dkk kok, merekalah real world bagi saya.
Merekalah source of happiness yang ngasi energy dan keceriaan dalam menjalani hari. I just can't imagine doing all of these stuffs without them beside me. Ga kalah penting juga adalah support system yang ada. Ga kebayang juga kalo kita bukan di Swedia, dimana para ayah juga dikasih paid parental leave sehingga bisa terjun langsung jagain anak. Kalo ga gitu mungkin ceritanya akan berbeda. Wallahu'alam.

Terima kasih ya Rabb, sungguh, segala kebaikan, segala kemudahan, hanya dari-Mu..

Jadi mari mulai dengan; Bismillaah 😊

Hi again, Chalmers!

Disaat Bunda ngampus

Back to School

Setelah seminggu kembali lagi ke tanah rantau tercinta, akhirnya saya mulai kuliah lagi. Hihi. Alhamdulillah Bismillah..

Setelah cuti dua semester, yang sangat worthed tentunya. Jauhlah rasanya ninggalin anak (sejenak) pas usia empat bulan sama 12 bulan mah. Bagi bayi, jeda beberapa bulan itu udah jauh banget bedanya.

Keinget dulu, saat rencana awal mulai kuliah lagi pas dede 4 bulan. Dalem hati udah ga sreg, tapi khawatir kalo ngelobi suami dari awal nanti proposal postpone kuliah ditolak pak bos. Akhirnya bawa ke doa aja. Eh ternyata malah mas suami sendiri yang nawarin postpone masuk kuliahnya, "Dede masi terlalu kecil, nanti aja lanjutinnya" kurang lebih begitu. MasyaAllah. Berasa banget deh kuasa Allahnya dan jadi pelajaran bagi saya untuk apa-apa itu, segala hal sebesar maupun sekecil apapun, mintanya ke Allah. Bukan ke makhluk. Makhluk mah semua dalam genggaman Allah aja kan, gampang bagi-Nya bolak-balikin hati.

Begitu juga waktu dede 8 bulan, hampir lanjut saat itu lagi kuliahnya. Qadarallah, izin turun lagi untuk menunda lebih lama karena bertepatan paksu sibuk tesis. Yeay!! Artinya lebih lama lagi bisa menyusui dengan nyaman dan romantis di rumah. Saya ga sanggup dan ga mau ninggalin baby lama-lama. Alhamdulillah Allah beri kemudahan.

Kalo liat matamu de, masyaAllah, I only see love.. bunda betaaah lama-lama liatin mata bulat gemesnya dede.. bikin bunda pengen punya bayi terus rasanya hihi.. #ehgimanagimana

Merawat bayi dengan bayang-bayang akan kuliah lagi itu ngasih kesadaran tersendiri tentang mewahnya waktu kebersamaan berdua. Bahwa bisa kruntelan, nyusuin in private, di rumah yang nyaman dan aman adalah karunia besar.

Dan sekarang insyaAllah kita siap ya dek (dan kakak cinta tentunya) untuk sama-sama berjuang ke next chapter. Semoga Allah ampuni semua kesalahan, kekurangan, dan tuntun ke jalan yang Ia ridhoi..

With tons of love,
Bunda
00.57
When everyone is asleep