Monday, December 11, 2017

Untuk Dipegang Erat

Kalau kita inget, bahwa semua kemudahan yang ada hanyalah karena rahmat Allah, maka ga ada ruang untuk sombong. Semestinya.
Apa yang mau disombongin?
Toh semua yang terjadi bukan murni karena campur tangan kita.

Kalau kita sadar, bahwa tiap kebahagiaan hanyalah karena rahmat Allah,
maka ga ada celah untuk merasa lebih tinggi. Semestinya.
Apa yang mau dirasa hebat?
Toh Allah sangat bisa mengambil semuanya dalam sepersekian detik.

Sedih, senang, senyum, tawa, semua dari Allah.

Kalo ada sedih, inget-inget, biasanya karena perbuatan kita. Kesalahan kita sendiri. Allah Maha Baik, Ia mau kita bersegera kembali. Kondisi kita bersimpuh, berdoa, mengemis, merengek ke Allah itu boleh jadi mengandung bahagia yang tak ternilai.

Saat ada senang, inget, kebahagiaan kita adalah hadiah dari Allah. Harusnya makin berterima kasih. Makin mendekat. Makin bersyukur. Makin merunduk.

Jadi, apa yang mau disombongin? Apa yang mau dibanggain?

Semua hanya karena rahmat Allah.

Monday, December 4, 2017

Pause

HP rusak (lagi). Ceritanya suatu malam baterai hp saya habis dan semalaman ga di cas, besoknya dicas ga berpengaruh. Qadarallah sampe sekarang masih mati ga mau nyala.

Setiap putus hubungan sama hp gini, saya ngerasa ada ketenangan(?). Saya seperti mendapatkan waktu untuk lebih khusyuk menjalani hidup. Ga direcoki dengan kekepoan ngecek hp secara berkala. Ga dipusingin sama serbuan notif.

Saya menyebutnya detoks. Kondisi tanpa hp ini mendetoks kebiasaan pegang hp, termasuk bermedsos. Mau ga mau perhatian jadi digunakan untuk ngelakuin hal lain yang (semoga) lebih berguna.

Ya walau tentu jadi terbatas ngehubungin suami, insecure kalo mau pergi-pergi, tapi tetep ada 'kenikmatan' bersama episode ini.

Detoks itu perlu, secukupnya.

Alhamdulillah 'alla kulli hal.

Dua Celah

Perjuangan itu ga berhenti sekalipun kita sudah 'hijrah'..
yang tadinya belum menutup aurat, jadi berhijab..
yang tadinya me-time nonton film nirfaedah, jadi nongkrongin channel ustad,
yang tadinya belum pake kaos kaki, jadi rapih tertutup rapat,
dan sebagainya, dan sebagainya..

Perjuangan akan terus dibutuhkan, selama kita masih bernafas,
karena setan pun akan terus menggoda tak peduli bagaimana keadaan iman kita,
mereka datang dari arah depan, kanan, kiri, dan belakang,
terus membisik, menggoda,  mengintai

Hanya dua kunci selamat,
hanya dua celahnya,
ke atas dengan melangitkan doa,
dan ke bawah dengan menyungkur bersujud (shalat).

Perbanyak dan jaga kedua hal itu,
agar kita selamat,
agar hati kita sehat,
agar kita mampu merasakan surga sebelum surga,
bagaimanapun kondisi kita di dunia.

---

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).'” (QS. Al A’raf : 16-17)

Al-Fakhrur-Razy dalam tafsirnya berkata: “Diriwayatkan bahwa ketika Iblis mengatakan ucapannya tersebut, maka hati para malaikat menjadi kasihan terhadap manusia mereka berkata: 

“Wahai Tuhan kami, bagaimana mungkin manusia bisa melepaskan diri dari gangguan syaitan?” 

Maka Allah berfirman kepada mereka bahwa bagi manusia masih tersisa dua jalan: atas dan bawah, jika manusia mengangkat kedua tangannnya dalam do’a dengan penuh kerendah-hatian atau bersujud dengan dahinya di atas tanah dengan penuh kekhusyu’an, Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka” (At-Tafsir Al-Kabir V/215)*

*Sumber: https://www.dakwatuna.com/2011/06/13/12726/iblis-datang-dari-muka-belakang-kanan-dan-kiri-kita-2/#ixzz50GKxPpvR 


Thursday, November 30, 2017

Math Around Us #Day10


Hari ini saya janjian ke toko barang second hand sama Anggi (dan baby lila). Sama Maryam aja karena Asiyah sekolah. Maryam kebangun pas lagi antri ambil paket di toko pos (mampir kesini dulu). Main-main, nen di tokonya. Menghangatkan badan. Maryam terlihat antusias dan takjub liat aneka warna-warni pakaian disana. Kebetulan tokonya cukup besar dan terang. Ga lama nen lagi dan bobo. Enaknya pake ergo jadi bisa sambil nen sambil liat-liat deh. Nursing on the go judulnya. Heuhehe.


Abis itu kita main di taman trampolin. Nemenin lila main. Terus saya beli ikan salmon di fish truck deket Centrum. Buat dimasak malam ini. Terus nemenin Anggi beli Ayam panggang di restoran kebab, sambil nungguin Ayah dan Asiyah pulang jadi ke rumahnya bareng-bareng.

Di rumah karena udah sore, ga banyak ngapa-ngapain. Asiyah udah kecapean keliatannya. Asiyah cerita di sekolah katanya diintilin temennya, terus kakinya dipeluk(?). 

A: Bunda, tadi S***** meluk kaki Asiyah.
B: He.. kenapa dia peluk kaki Asiyah? Kalo Asiyah terganggu Asiyah bilang 'No' ya.
A: Main-main aja. Ga kok, Asiyah ga terganggu.
B: Oh, yaudah kalo ga terganggu gpp. 

Sekian tentang hari ini. Alhamdulillah 'ala kulli hal

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Wednesday, November 29, 2017

Math Around Us #Day9

Matematika hari ini seputar logika.. Hari ini kita ke perpustakaan lokal dekat rumah, bertiga saja. Maryam digendong pakai babycarrier, Asiyah di stroller. Sebelumnya kita belanja beberapa keperluan sebentar di supermarket centrum.

Di perpustakaan..

A: Bunda, pas kita masuk, kenapa pintunya kalo dipencet terus kebuka sendiri? (ada semacam pencetan besar di dinding sebrang pintunya, biar bisa kebuka otomatis bagi yg membutuhkan. Bukan pintu pakai sensor, jadi harus dipencet dulu, buka manual juga bisa).
B: Oh, itu karena ada mesinnya.
A: Kenapa ada mesinnya?
B: (hmmm... kayaknya masi belum puas dari penjelasan pertanyaan pertama. yakni pintu otomatis, jadi bukan si mesin highlightnya) Biar orang-orang yang udah tua, yang bawa stroller, yang naik kursi roda, bisa mudah masuknya..
A: *manggut-manggut* (Yess! Diam artinya udah terpuaskan jawabannya. Kalo keponya belum terjawab bakal lanjut terus kenapa-nya. Jadi harus pandai-pandai si Bunda mencermati pertanyaan. Kadang yang ditanya ga bermakna literal, karena masih terbatas kemampuan mengungkapkan pikiran jadi yang ditanyain pasti ujung-ujung kalimat jawaban aja. Harus pinter-pinter menganalisis ini akar keingintahuannya tentang apa sih)

Di perjalanan pulang, melewati preschool yang isinya anak-anak kecil (kurang dari tiga tahun).
A: Bunda, kenapa itu ga ada ayunannya?
B: Oh, iya perosotan aja ya adanya. Mungkin karena anak-anaknya masih terlalu kecil.
A: Kenapa terlalu kecil? (pola: ngulang keterangan paling belakang).
B: Iya, jadi kalo naik ayunan belum bisa. Bisanya perosotan aja.
A: *terdiam, lanjut ngunyah donat di stroller* (Yap bener lagi. Yang di kepo-in itu kenapa anak-anak ga disediain ayunan, jadi fokusnya bukan ke pertanyaan 'kenapa terlalu kecil' karena anaknya ngulang pola aja kalo akar keponya belum masuk logikanya. Dengan kata lain, walopun yang ditanyain 'kenapa terlalu kecil', itu hanya indikasi bahwa jawaban sebelumnya belum 'menjawab').

Benarlah jadi ibu itu artinya jadi madrasah, jadi sekolah bagi anak. Terus menerus sampai mereka (setidaknya) baligh, siap lepas.. Waktu bayi, kita dampingi belajar tentang 'trust' pada caretaker-nya. Besaran lagi, kita dampingi belajar tentang adanya persepsi jarak (separation anxiety). Dan seterusnya. Seorang ibu akan terus mendampingi anak-anaknya belajar mengenal dunia, menyiapkan sang anak bisa hidup dgn baik (semoga selamat sampai akhirat), mentransfer apa yang ia tahu ke anaknya. Semoga Allah bimbing para ibu dalam menjalankan perannya..

Maryam juga ikut lihat-lihat dan bercanda-bercanda di perpustakaan. Maryam bobo awalnya, bangun pas sampe sana. Main-main sebentar. Lanjut bobo lagi. Pakein jaket juga sambil bobo. Semoga jadi ikut menikmati dan belajar tentang dunia luar ya nak. Ganti-ganti suasana.. Karena winter, paling cocok jalan-jalan ya ke indoor space gini.

Alhamdulillah. Terima kasih ya Rabb untuk hari ini :)






#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs