Thursday, October 12, 2017

Mau Jadi Apa?

Suatu hari di meja makan..

B: Asiyah, kalo udah gede mau jadi apa?
A: Mau jadi Bunda

:")

#35bulan

Wednesday, October 11, 2017

Materi 0-7 tahun, oleh teh kiki barkiah

Ditulis oleh: Kiki Barkiah
Titik tekan materi di usia 0-7:
1. Pengalaman senso motorik yang kaya permainan imaginatif, bukan permainan kognitif
2. Bahasa ibu yang utuh, sampai anak memiliki kemampuan untuk menyatakan ekspresi dan gagasan yang baik
3. Belajar langsung di alam, belajar bersama alam (experiantal learning)
4. Belajar melalui kehidupan (learning through living)
Dimasa ini, kognitif anak belum siap. Hal yang jauh lebih penting dalam proses pendidikan usia dini dibanding menjejalkan kemampuan calistung: 
1. Menumbuhkan semangat dan merangsang rasa ingin tahu anak sebagai seorang pembelajar
2. Melatih daya tahan anak dalam mengerjakan tugas sampai tuntas dan melatih mereka agar bersedia mencari bantuan ketika menghadapi masalah
3. Melatih anak agar dapat kooperatif dalam melakukan aktivitas atau kegiatan belajar.
4. Melatih anak agar dapat berinteraksi dengan mudah dengan anak lainnya
5. Melatih anak agar dapat berinteraksi dengan mudah dengan orang dewasa yang dikenal
6. Melatih anak agar dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok
7. Melatih anak agar dapat bermain dengan orang lain dengan cara yang baik
8. Melatih anak agar bersedia bergiliran dan berbagi mainan
9. Melatih anak agar dapat membersihkan dan merapihkan lingkungan setelah menggunakannya
10. Melatih anak agar dapat mencari bantuan orang dewasa bila diperlukan untuk menyelesaikan konflik
11. Melatih anak agar dapat menggunakan kata-kata dan cara yang baik untuk menyelesaikan konflik
12. Melatih anak agar dapat mendengarkan dengan pemahaman terhadap arahahan, perintah dan percakapan
13. Melatih anak khususnya usia pra sekolah dapat mengikuti satu sampai dua petunjuk
14. Melatih anak agar dapat berbicara dengan cukup jelas untuk dipahami tanpa harus memberikan petunjuk kontekstual
15. Melatih anak agar dapat bercerita berkaitan pengalaman disertai dengan pemahaman tentang urutan peristiwa
16. Melatih anak agar dapat mengungkapkan ide dan pendapatnya
17 Melatih anak memiliki minat terhadap kegiatan yang berhubungan dengan membaca
18. Menumbuhkan antusiasme anak saat kegiatan membacakan buku
19 Merangsang anak agar dapat menyampaikan kembali informasi yang didapat dari cerita
20. Melatih anak agar dapat menunjukan urutaan cerita melalui gambar secara logis
20. Memfasilitasi anak untuk dapat bermain peran dengan benda-benda
21. Mendorong anak untuk mengambil peran dalam permainan berpura-pura
=======================
pola hubungan dalam fasa 0-7:
Children as a player, parent as facilitator

tentang menyusui, tulisan sarra risman

mungkin bunda memang ga punya gunungan emas, atau uang yg tak berseri.. ilmu pun terbatas.. bunda hanya punya ikhtiar utk menyusui kalian dgn sempurna.. 

smg tiap waktu yg dilalui, tiap tetes yg mengalir, tiap erat hangat dekapan, akan membantu kalian mjd insan yg takwa.. shalihah ya nak.. karena syafaat kalian, doa kalian, amal kalian yg kami harapkan..

--
ditulis oleh: sarra risman


Bismillah..
Kehebatan gizi dalam asi sudah tidak terbantahkan lagi. Kecanggihan teknologi sudah tuntas mengupas kuasa allah dalam setiap tetesnya. Pentingnya menyusui bayi sudah dikampanyekan dari pusat kota sampai pelosok desa, asosiasinya ada, bahkan sudah tertulis juga buku asi untuk para ayah. Ini bukan bidang saya, sehingga saya tidak akan banyak bicara dari segi kesehatannya, saya cuma akan berbagi pengalaman yang saya lewati saja. 
Menurut saya target utama menyusui justru bukan dari segi gizi. Bonding yang tercipta ketika prosesnya berlangsung yang justru jauh lebih mahal. Menyusui secara langsung mengajarkan saya luar biasa banyak hal setiap langkah nya. 
Seorang ibu harus belajar tabah untuk terus menyusui walau puting payudaranya luka di awal proses menyusui karena bayi (dan ibu) sedang mencari posisi kelekatan yang pas, apalagi para ibu baru. Baru beberapa bulan sembuh, si ibu kembali menguatkan hati karena harus menahan sakit ketika puting payudaranya di gigit oleh gusi yang belum, sedang, atau bahkan sudah bergigi. Dan karena anaknya bahkan belum berusia 1 tahun, jadi tidak bisa di marahi. 
Menyusui secara langsung mengajarkan kesabaran untuk menunggu sampai anak kenyang atau tertidur untuk melepas payudaranya agar bisa melakukan hal-hal yang ingin atau terkadang harus ia lakukan, seperti ke kamar mandi. Para ayah tidak tahu pegalnya berbaring ke satu sisi berjam-jam karena kalau kita lepas, bayi yang tertidur itu kembali melek matanya, dan hal yang benar-benar kita harus lakukan itu jadi malah tertunda semakin lama. 
Menyusui secara langsung dapat merangsang kreatifitas. Ketika mata bayi melihat wajah saya saat menyusui, saya biasanya membuat beragam bentuk muka atau mengajak ngobrol anaknya. Atau kalau dia sudah tertidur dan gadget yang biasa dipegang tidak tergapai, kita harus menghibur diri dengan hal-hal lain sambil menunggu tidur nya benar-benar nyenyak. Syukur-syukur kalau ada ayat quran yang harus di murajaah.
Menyusui secara langsung mengajarkan bersyukur. Sambil memandangi sempurnanya ciptaan Allah dari jarak sejengkal, 730 hari. Mata yang bulat, alis yang sempurna untuk komposisi wajahnya. Hidung kecil yang dielus-elus dan doakan agar kelak memanjang ke depan. Bibir keriting yang tidak bosan dan berhenti mengisap berpuluh-puluh menit. Rambut yang tumbuhnya tidak rata menutupi seluruh kepala dan kuping yang cuma kelihatan sebelah setiap kali menyusui itu didoakan agar nanti dapat bersabar menerima semua nasihat ibunya.
Sebuah penelitian di Jerman membuktikan bahwa memandang wajah seseorang selama beberapa menit akan menumbuhkan rasa kasih sayang, empati, dan semua rasa-rasa positif lainnya. Bayangkan betapa kuatnya cinta mengakar dari seorang ibu ke anaknya dan sebaliknya pula dengan menyusui secara langsung dan saling bertatapan dan tersenyum. 
Menyusui mengajarkan istiqomah dan mengalah. Melakukan sesuatu dengan telaten, berhari, berminggu, berbulan, bertahun. Tidak ada cuti, tidak pandang wiken, atau kesibukan. Ketika mulut kecil itu menangis, kita belajar untuk meletakkan segala hal lain yang sedang kita kerjakan, dan menyusui. 
Menyusui mengajarkan ikhlas. Memberi dan terus memberi tanpa henti dan tidak mengharapkan balasan apapun, seperti matahari. 
Menyusui secara langsung bahkan mengajarkan saya bahwa ada ujung di setiap hal di bumi. Betapapun kita mencintai (atau membenci) proses menyusui, ini pun ada akhirnya. Karena saya penganut MMA (Menyapih Menurut Al-Quran), maka proses penyusuan saya berhenti di usia 2th hijriyah teng-teng. Karena bagi saya, kalau allah menyebutkan angka yang jelas dalam dalilNya, maka angka tersebut harus diikuti adanya, sama seperti jumlah rakaat shalat, lama puasa, putaran thawaf, dan lain-lain. Jadi dalam proses pemberhentian penyusuan pun saya masih belajar konsisten, tega, sabar, tegas namun tetap penuh kasih sayang. 
Jadi menurut saya malah perintah allah akan menyusui ini justru lebih menguntungkan para ibu. Seharusnya, setelah masa penyusuan ini berakhir, para ibu sudah bermetamorfosa menjadi mahluk yang lebih baik lagi. Yang lebih tabah, sabar, kreatif, istiqamah dan bersyukur. Nilai yang tertancap selama 2th ini seharusnya cukup untuk menjadi fondasi pengasuhan minimal 20th ke depan. 
Selain berpahala karena melakukan salah satu jobdesc dari allah, menyusui secara langsung menciptakan bonding yang tidak lekang waktu. Bonding ini yang tidak bisa di logikakan dengan akal, diteorisasikan dalam buku dan dibuktikan dalam satuan gram oleh kecanggihan mesin dan teknologi. Itu mungkin mengapa Allah memerintahkan jika ada ibu yang tidak bisa menyusui anaknya secara langsung, lebih baik memberikannya kepada yang bisa. Karena bonding skin-to-skin ini yang tidak terbayar rupiah. Lihat bagaimana bonding Rasulullah dengan Halimah bahkan ketika Beliau sudah dewasa. 
Saya percaya bahwa kata-kata, kedekatan, kehangatan, belaian, doa dan kasih sayang yang terjalin dari 2 tahun pertama itu yang akan menjadi fondasi kokoh dari seorang manusia yang shalih, sukses, percaya diri, dan cerdas. Pelukan yang diberikan dengan pemenuhan kebutuhan secara seketika itu yang membangun rasa saling percaya. Rasa percaya bahwa ibu akan selalu ada, membantu, melindungi, dan mencinta. Bonding itu yang kita harapkan akan tetap terjaga, yang mengingatkan mereka untuk mengadahkan tangan atau berbisik dalam sujudnya dan mendoakan ketika kita sudah tiada. 
"You can't buy love. Because when it's real, it's priceless"
-Anonymous

*jika dirasa manfaat, silahkan membagikan artikel ini
** artikel ini tidak dibuat untuk membandingkan antara ibu yang bisa menyusui/tidak, secara langsung/tidak, murni hanya sharing opini penulis atas pengalamannya saja, seperti biasa.

Saturday, September 30, 2017

seperti lilin

cinta mama itu seperti lilin.

hanya taunya menerangi, sekalipun meluruhkan dirinya sendiri.

sakitnya disimpan sendiri, taunya hanya memberi.

jauh masi jauh lah saya sama mama.

saya masih suka ngeluh, masih lemah, batas sabarnya pendek, sumbu emosinya apalagi..

juga oma.

oma itu tulus. tulus yg mampu meninggalkan memori. menggerakan hati kecil cucu utk mengenang dan melangitkan doa, sekalipun sudah ditinggal belasan tahun..

semoga ada sifat-sifat baik mereka yg menurun walau sedikit. walau sedikit.

Saturday, September 23, 2017

Tentang Haji (copas status pak suami)

ditulis oleh Ferry Anggoro Ardy Nugroho. 

beberapa hari setelah pernikahan dulu saya sempet bilang ke istri kalau salah satu target di keluarga nanti yaitu bisa naik haji sama2 sebelum dia berumur 25 tahun (nikah umur 19 haha).. agak abstrak juga sih, soalnya waktu itu status saya juga masih nulis tesis s2, walau udah tau kapan bakal lulus tapi belum ada lagi rencana ke depannya bakal gimana dan tinggal dimana.. tapi ya namanya target ibadah ya pasang aja setinggi2nya, kalau allah mau kasih mah gampang aja, jadi ga ada salahnya  lagipula kayaknya dulu pengen aja nyelesein semua kewajiban di waktu muda, jadi seterusnya udah ga ada "beban" lagi hehehe

alhamdulillah ternyata taun lalu target itu dikabulkan Allah, kita berangkat dari Swedia, 1 tahun 1 bulan sebelum deadline  dan ternyata target untuk berhaji di masa muda sangatlah tepat, karena ternyata berhaji itu benar2 ibadah yang butuh fisik yang prima. arab sendiri puanasnya minta ampun bisa kisaran 40 derajat, belum lagi rukun2 haji yang butuh fisik prima seperti bermalam di alam terbuka dan berjalan berkilo2.. sebagai contoh dari tenda kami ke tempat jumroh aja sekitaran 5km, bolak balik jadi 10 km dan prosesnya harus berjalan terus supaya tidak mengganggu flow di belakang.. rekor kami pribadi pernah dalam 1 hari kayaknya ada berjalan kurang lebih 30km, alhamdulillah semua terasa mudah.. tapi semua kondisi berat ini juga bikin jamaah mudah sakit, jadi jamaah batuk2, demam tinggi dll itu ya hal biasa

untuk berhaji sendiri emang butuh banyak pengorbanan, apalagi di waktu muda bgini, bisikan setannya banyak bangeeet.. misal dari segi finansial, faktor paling penentu, gampang sekali kita mikir yaudah haji nanti aja kalau semua sudah settle, rumah mobil udah ada anak udah pada kerja dll, hehe.. padahal justru itu ga ada yang wajib, mampu haji itu ya ongkosnya ada, ga peduli punya rumah/kendaraan atau ga.. kami sendiri tabungan langsung tinggal bersisa sekitar 30an%, kendaraan ga punya rumah apalagi  tapi selama haji kita berdoa supaya diberi kemudahan finansial, ga pernah merasa kurang, dijauhkan dari hutang dll

masalah karir mungkin juga jadi alasan, sehingga ditunda2 trus (sampe pensiun), alhamdulillah di kerjaan saya ambil cuti itu bebas, andaikan ga pun yaudah cuti aja hehe istri juga ninggalin kuliah 3 minggu dari total 7 minggu, tinggal berdoa lagi smoga dapat berkah dan kelancaran dalam karir ataupun studi, alhamdulillah ga ada masalah, riset saya masih lancar, istri tetep lulus smua matkul dengan baik (walaupun sedikit ngos2an ngejar ketinggalan)  tapi smua manageable.. ga lulus ya gpp tinggal diulang 

yang trakhir, dan yang paling berat, itu faktor ninggalin anak, dulu asiyah belum ada 2 tahun.. setelah banyak pertimbangan waktu itu emang kita putuskan paling tepat bwt berhaji: mumpung adeknya belom ada (dan akhirnya kita tunda dulu) dan anaknya pun sudah cukup besar bwt ditinggal.. strategi pun banyak kita lakukan mulai dari menyapih anak (yang alhamdulillah sekitar 2 minggu sebelum berangkat lulus ) sampai nitipin anak selama ditinggal haji.. alhamdulillah ada nenek dan tantenya yang baik yang datang ke swedia untuk jagain selama kami tinggal.. selama berhaji dulu kita selalu berdoa semoga semua baik2 saja, kita juga berdoa setelah pulang nanti bisa diberikan adiknya asiyah (alhamdulillah dikabulkan bulan lalu ). alesan ini jugalah yang membuat kita pulang duluan dibanding rombongan lain, bgitu rukun haji selesai, langsung pulang sendiri ke swedia.. alhamdulillah ternyata semua baik2 aja ga ada kendala, memang janji allah benar, kalau kita serahin semuanya ke allah, apalagi dalam hal ibadah, insya allah yg lainnya bakal dijaga baik2.. seperti hikmah kisah nabi ibrahim yang rela meninggalkan ismail dan hajar sendirian di mekkah karena diperintahkan allah..

intinya berhaji itu memang berat dalam banyak hal tapi bakal sangat baik dan optimal kalo kita bisa ngelakuinnya di masa muda, mudah2an kita semua termasuk orang yang tidak menunda2 ibadah apalagi "cuma" gara2 urusan dunia 


setelah tawaf ifadah, 
puncaknya masjidil haram penuh, masyaAllah