Posts

Keistimewaan Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

Image
Beberapa hari yang lalu, baca curhatan seseorang di IG story tentang tantangan hidup(?) sebagai bumil. Aih, jadi kangen hamil lagi nostalgia. Masa-masa yang romantis, indah, sekaligus juga bisa menguji karena namanya hamil, semudah apapun tetap saja 'wahnan 'ala wahnin' , kelemahan yang bertambah-tambah. Hamil muda, mabok. Hamil tua, susah gerak. Hihihi. Masih inget deh 'rasanya' harus tiap sebentar ke kamar kecil pagi-siang-malam. Belum lagi menjelang melahirkan, bisa kebangun jam 1-2-3 dini hari saking kantung kemih udah tertekan bayi. Mau tidur pun perlu perjuangan cari posisi yang nyaman. Mau pasang kaos kaki sendiri bisa akrobat dulu karena kehalang perut. Belum lagi bentuk tubuh yang berubah drastis bikin selera ngaca berkurang drastis *lebay amat bun, hihi.. Tapii.. Dibalik segala kelemahan, kerempongan, sungguh ada kenikmatan tersendiri. Bila Ia mengizinkan kita untuk menyadari, sungguh ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan. Saya mengangg...

Emotional Stability

Dalam hidup ga selalu kita ketemu situasi yang menyenangkan hati. Tapi percaya aja, kadang hal-hal membingungkan, menyebalkan, meng-spicles-kan, hadir dalam hidup kita untuk kebaikan kita sendiri. Seenggaknya buat bahan belajar tentang mengontrol emosi, melatih kestabilan emosi. Misal abis ketemu orang yang yang menguji kesabaran, coba kasih udzur, mungkin dia abis menghadapi hari yang berat. Bawa hepi aja, jangan bawa ke hati. Ya ga? Senyumin aja,  yes . Inget kebaikannya aja.

You Start

Hari ini diingatkan kembali, melalui kajian ust haikal (babe haikal), random aja nyari di yutub. Qadarallah, mencerahkan. Banget. Beliau bilang, orang tua kayak gimana yang paling dibutuhin di zaman sekarang? Jamaah menjawab aneka ragam. Mulai dari yang bisa ngajarin ngaji, yang selalu ada, dsb dkk dll. Semua fatal error, katanya. Bukan itu. Anak-anak butuh orang tua yang.. pelawak. Bahasa lainnya, orang tua yang menyenangkan. Saya tertampar. Sudah seberapa sering saya 'melawak' di depan anak? Apakah selama ini cuma banyak menuntut atau percakapan banyak diisi oleh urusan routines (semacam yuk sikat gigi, ayo makan, dsb)? Hiks Pas banget reminder ini. Ceritanya saya diambang keluhan terhadap mood swingnya kakak beberapa hari ini (yang dicurigai akibat kangen ayah dan sariawan). Maka setelah dapat fresh reminder ini, saya mencoba mengubah approach. Saat kakak sampe rumah sehabis diajak jalan oma-opa, saya coba lebih playful. Intonasi, tatap wajah, gesture, isi pembicar...

Saat Ayah Konfrens

Rasanya udah lamaaa banget ga nulis disini. Banyaakk banget yang terjadi di dunia nyata, pengen dibahas tapi bisi belibet jadi ditunda mulu. Heu. Daripada dipendem terus, sedangkan menulis adalah salah satu media ampuh untuk ngelurusin pikiran(?), maka biarlah sebelum tidur ini saya mau nulis aja sengalirnya. Okeh, lanjut. Sekarang akhir oktober, pak suami lagi konfrens ke cina seminggu. Masih ada 3 hari lagi sampe insyaAllah kembali ke swedia. Dan percayalah, walaupun ada mama papa yang lagi main kesini, tetep aja tanpa pak suami ada yang kurang rasanya. Kangen, pasti. Tapi ada yang lebih wow lagi. Yakni, kakak asiyah kena malarindu akut sama bapaknya. Nyariin ayah mulu, "asiyah miss ayah, ayah lama banget ke cina nya. Maunya peluk ayah sekarang. Mau bobo sama ayah." Dsb dkk dll. Kalah deh abege pacaran juga. Kakak asiyah juga lagi sariawan, kok pas banget sama pas ayah ga ada. Sariawannya ada beberapa. Jadi susah makan, ngomong juga susah. Jangan tanya effortnya untuk...

Moto

I'm here to learn. Begitulah kurang lebih moto perkuliahan yang baru kepikiran diluapkan dalam kata-kata di semester ini. Selama ini ya kuliah-kuliah aja, ga pake moto(?). Tapi berasa manfaat sih mengeksplisitkan suatu hal yang abstrak atau tadinya cuma ada dalam hati doang. Biar ga kebawa arus yang menggerus niat. Biar inget ga perlu merasa kepinteran, show off, etc dkk dll. Kosongin dulu gelasnya. Cause, I'm here to learn.

Catatan dari Kajian Teh Haneen Akira - Baperan

Image
"sifat walinya Allah, mereka ga takut. laa khauf." "semua orang punya hati, tapi ga semua orang hatinya hidup." "ketika kita menghargai alquran, Allah hargai kita. ketika kita memuliakan alquran, Allah muliakan kita. ketika kita menjaga diri dengan ayat-ayat alquran, Allah yang jaga kita. kalau kita melupakan alquran, lihat saja bagaimana alquran melupakan kita. ketika kita abaikan alquran, boleh dicoba bagaimana rasanya Allah mengabaikan kehidupan kita." "barangsiapa yang berpaling dari dzikrurabbi (alquran), maka ia akan memiliki kehidupan yang sangat sempit. barangsiapa yang berpaling dzikrurrahman (Allah), isi hatinya cuma baper/perih/pedih." "karena yang disini (hati), butuh alquran. yang disini (hati) bisa tumbuh, bisa segar, bisa menemukan habitatnya dengan alquran. yang mengerti keagungan alquran maka ga akan pernah meninggalkan alquran. yang mengerti manfaat, keberkahan, kebaikan alquran, maka ia tidak akan pernah tin...

Menjadi Muslim

Image
Kadang kita kira kita punya pilihan, untuk berkelit, untuk menghindar. Tapi nyatanya, menjadi muslim artinya adalah berserah diri. Submitting ourselves to the Creator. Menjadi muslim artinya menyerahkan diri kita, keputusan-keputusan dalam hidup kita, hal-hal yg kita sukai, hal-hal yg kita benci, hanya kepada Allah, sesuai dengan yang diinginkan-Nya. Menyerahkan diri kita, bakti kita, hidup kita hanya kepada Allah. Itulah makna muslim yg sesungguhnya. Maka sudah sepantasnya kita mengevaluasi diri, lagi dan lagi, apakah sudah sesuai kita menyebut diri sebagai seorang muslim? Apakah sudah selaras perbuatan, ucapan, maupun kata hati kita sebagai seorang muslim? Ini bukanlah hal yg dilakukan sekali maka selesai, melainkan terus-menerus. Karena ujian akan terus datang selama kt hidup, garis finishnya nanti saat malaikan maut datang menghampiri. Semoga yg terbaik bagi usia kita adalah diakhirnya. _pengingat untuk diri sendiri_