Posts

Showing posts with the label renungan

Refleksi Pengasuhan Anak | Persiapan Sebelum Menikah

Image
 Mau menjejak rasa. Alhamdulillah, betapa tenang dan bersyukurnya. Malam hari, anak-anak dan suami sudah terlelap. Bunda diapit Baby Salman dan Uni Maryam, Kakak Asiyah berpelukan dengan Ayah. Terima kasih ya Allah atas kebersamaan ini. Begitu nyaman hati bisa senantiasa bersama mereka yang dicintai. Bagi banyak orang barat, tidur keruntelan begini bukan hal yang lumrah. Malah kadang dianggap aib. Anak bahkan bayi ‘baik’ adalah yang bisa tidur mandiri sendiri kalau perlu terpisah kamar dari orang tua sejak hari pertama.  Syukurlah jodohku wong indo aseli, heheh. Bukan hanya itu, kami memiliki prinsip dan value yang sejalan dalam mengasuh anak-anak. Kami berdua sama-sama seneng melukin anak, keruntelan berjamaah, dekat secara fisik dan hati dengan mereka. Gak mendewakan  physical detachment  yang terlalu dini, sewajarnya aja sesuai usia. Kami menikmati prosesi ngelonin anak-anak. Memeluk erat mereka di kasur kami sampai terlelap dengan tenang. Walaupun kasur kami cuku...

Keistimewaan Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

Image
Beberapa hari yang lalu, baca curhatan seseorang di IG story tentang tantangan hidup(?) sebagai bumil. Aih, jadi kangen hamil lagi nostalgia. Masa-masa yang romantis, indah, sekaligus juga bisa menguji karena namanya hamil, semudah apapun tetap saja 'wahnan 'ala wahnin' , kelemahan yang bertambah-tambah. Hamil muda, mabok. Hamil tua, susah gerak. Hihihi. Masih inget deh 'rasanya' harus tiap sebentar ke kamar kecil pagi-siang-malam. Belum lagi menjelang melahirkan, bisa kebangun jam 1-2-3 dini hari saking kantung kemih udah tertekan bayi. Mau tidur pun perlu perjuangan cari posisi yang nyaman. Mau pasang kaos kaki sendiri bisa akrobat dulu karena kehalang perut. Belum lagi bentuk tubuh yang berubah drastis bikin selera ngaca berkurang drastis *lebay amat bun, hihi.. Tapii.. Dibalik segala kelemahan, kerempongan, sungguh ada kenikmatan tersendiri. Bila Ia mengizinkan kita untuk menyadari, sungguh ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan. Saya mengangg...

Jangan Pernah

Kalo ngeliat ada orang ngelakuin sesuatu yang kita rasa belum pas, salah, maksiat sekalipun. Jangan dicap lebih rendah dari kita. Kita ga pernah tahu, boleh jadi di akhir usia nanti ia lebih mulia, atau justru saat ini. Inget, orang masuk surga bukan karena hebatnya amalan. Tapi karena rahmat Allah . Kita ga tahu Allah ridha sama siapa. Jangan ngerasa udah cukup baik dengan amalan yang bahkan belum ada jaminan akan menghindarkan dari neraka. Kita hanya diselamatkan dari satu dosa yang ditampakkan, boleh jadi kesalahan kita di mata Allah lebih fatal. Fokus sama diri sendiri. Besarkan kesalahan diri sendiri di mata kita. Jangan melulu yang dirisaukan bagiannya orang lain. Sedangkan yang paling bisa kita ubah ya diri sendiri. Coba dirasa lagi, apa benar kita merespon udah karena cinta dan peduli? Kalo iya, seminimalnya pasti akan kita masukin dalam doa. Urusan akhirat, targetkan dan lihat terus yang lebih diatas. Udah Allah kasih kemudahan ngaji, tingkatkan takwa dengan perbaiki...

How to stay mindfully happy

Kurang lebih begini hasil perenungan sampai saat ini= - Ingat kebaikan orang lain, sekecil apapun. - Hindari prasangka buruk. Tidak memikirkan apa yang tidak perlu. - Kalau melihat keburukan, benci perilakunya, bukan orangnya. Kita ga pernah tahu apa yang akan terjadi di detik selanjutnya. Boleh jadi orang yang saat ini bermaksiat, esok lusa mendapat hidayah dan ternyata adalah ahli surga. - Dilindungi dari dosa besar bukan berarti aman. Berhati-hati terhadap dosa hati. Jauhi riya, ujub, ingin didengar kebaikannya, ingin dipuji, ingin dilihat baik. - Tawadhu. Cari celah merasa orang lain lebih baik daripada kita. - Budayakan istighfar. Atas kesalahan yang kita lakukan baik disadari maupun tidak disadari, juga terhadap kesalahan belum melakukan apa yang seharusnya dilakukan, baik disadari maupun tidak disadari. Pasti ada salahnya. Kalau ngerasa bebas dari kesalahan, itu aja udah salah. - Senyum. Senyum adalah sedekah. Apa sih poin sedekah? Sedekah bikin orang lain senang. Senyum...

Wanita itu....

Wanita itu, setelah melahirkan, akan berada di titik terbawahnya, titik terlemahnya. Segentle apapun namanya melahirkan badan ya 'remuk' juga. Paling butuh support, pelukan, bantuan, penguatan. Apalagi ditambah libur solat bisa 40 hari, ruhiyah merosot. Yah, haid seminggu aja begitu mulai ibadah lagi suka kemunduran kan.. Apalagi 6 minggu.. Wanita itu, setelah melahirkan, akan ter-reset lagi jiwanya. inner child muncul seperti mereview kembali hari demi hari dari awal kejadiannya. Kesempatan dari Allah untuk membetulkan kembali alur-alur syaraf yang kadung tebal dibagian yang tidak tepat. Jadi butuh penyikapan yang peka dan khusus. Orang-orang terdekat, khususnya suami, mendapatkan kesempatan emas beramal sholeh dalam membesarkan dan menentramkan hati para ibu.  Orang-orang terdekat, khususnya suami, mendapat kesempatan besar mengokohkan jiwa ibu.  Orang-orang terdekat, khususnya suami, mendapatkan kesempatan besar mendidik para ibu.  Tanpa bantuan dari s...

Apa?

Hidup di dunia kan sementara ya. Apa yang terjadi disini, semua bakal berlalu. Seneng, sementara. Sedih, juga sementara. Susah, sementara. Mudah, juga boleh jadi sementara. Berkali-kali diingatkan, bahwa kita seharusnya selalu berusaha ada di pertengahan. Kalau seneng jangan berlebihan, kalau sedih juga. Kalau udah mulai merasa banyak kemudahan, hati-hati pisan jatuh pada kesombongan. Kalo mau sombong, tanya aja, "Apa yang mau disombongin? Apa yang bisa disombongin? Semuanya punya Allah kok. Semuanya dalam kuasa Allah kok. Gampang aja bagi Allah ambil semua yang kita banggakan, sebagaimana juga mudah aja bagi Allah ngasih semua yang kita kira sulit sekali." Maha Kuasa Allah, tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya. :)

Muraja'ah Anak - Kapan Asiyah Mengulang Hafalan?

Image
Sedikit dokumentasi tentang proses Asiyah belajar mengaji.  Sedari awal, keinginan kami adalah semoga Asiyah (dan kelak adik-adiknya) bisa senang dengan alquran, senang membacanya, senang menghafalnya, dan semoga kelak senang hati pula menjadikannya sebagai pedoman hidup dan menyebarkan cahayanya. Tentu pengen bisa anak hafidz quran. Sekalipun sadar diri, kemampuan diri masih jauh dari sempurna. Saya rasa, ada hikmahnya juga saat menyadari kemampuan diri masih pas-pasan tapi harapannya tinggi, yakni jadi ada semangat belajar dan jadi fokus juga sama perbaikan diri, ga melulu melihat ke anak, berharap ke anak. Rasanya lebih nyaman. Kalau katanya Bu Elly Risman, perbaikan apapun yang ingin kita lakukan ke anak, pertama kali yang harus dilihat dan diperbaiki adalah orang tuanya. Dan saya merasakan sekali efeknya statement tersebut. Begini, misal dalam keseharian, saya memutar salah satu surat, niat utama buat hafalan diri sendiri. Tapi masyaAllah, anak meniru dengan baik. "Bonus...

#NHW 8 Misi Hidup dan Produktivitas

Image
Tentang menerapkan misi hidup secara teknis. Bidang dari ranah kuadran "Suka dan Bisa" (dalam #NHW 7; Menuju Ranah Produktif dengan Bahagia ) yang saya pilih adalah menulis. Berikut jawaban terhadap pertanyaan "Be Do Have". 1. Kita ingin menjadi apa? Ibu yang dicintai anak, yang selalu bisa jadi tempat berpulang, memberi rasa nyaman dan aman, dirindukan kehadiran dan masakannya. Istri yang menyenangkan suami, membuat suami selalu bersyukur dan mendekat kepada Allah, kelak saat sudah tiada terus dikenang kebaikannya. Memberi manfaat bagi masyarakat dengan tulisan. 2. Ingin melakukan apa? Menulis rangkaian hikmah yang ditemui, ilmu, cerita sejarah para shalihin, maupun nasihat yang dapat menjadi bagian pendidikan bagi anak. Terus abadi walaupun kelak saya sudah tiada, dan juga dapat dirasakan manfaatnya bagi keluarga lainnya. 3. Ingin memiliki apa? Ingin memiliki anak-anak yang shalih/ah, yang kelak saat orang tua sudah tidak ada akan terus mendoakan dalam...

Tentang TV

Image
Pagi ini lihat status FB Bunda Kaska tentang TV (saya kutip di bagian bawah), lalu jadi ingat salah satu refleksi diri yang saya lakukan jauh sebelum menikah. Jauh sebelum banyak tokoh parenting atau ahli perkembangan anak menghimbau (bahkan dengan tegas melarang sampai usia tentu) pemaparan TV pun gadget ke anak, saya udah duluan membulatkan hati tentang ini. Cukup refleksikan, kontemplasi, ke hidup sendiri, ke pengalaman pribadi. TV itu ngasi pengaruh baik atau buruk? Saya dulu saat kecil suka 'menandai masa', tiap perasaan atau pemikiran di masa itu saya ingat dengan sadar, dijadikan pelajaran untuk kalau sudah besar nanti. Salah satunya perihal TV. TV, sebagaimana pisau, maupun benda lain seperti peniti, bisa baik kalau sesuai cara penggunannya, dan bisa buruk kalau ga sesuai cara penggunaannya. Bisa baik kalau kontrol ada di tangan kita, dan bisa buruk kalau diri kita yang diatur sama mereka. Mungkin bisa TV jadi baik kalau digunakan sebagai pengganti layar laptop ...

#NHW 5 Learning How to Learn

Image
Niat hati ngerjain NHW 5 pas hari jumat malem, tapi ternyata lebih asik malem sabtuan sama mas suami, heuhe, jadilah baru kepegang sekarang. Sebelumnya ngapain ajaaa? Tugas ini dikasih Senin, dan selama weekdays perhatian saya kesita sama tugas kampus yang mulai memasuki peak -nya di pekan ini, deadline mulai berdatangan. Jadilah mau ga mau baru bisa nulis sekarang. Semoga kedepannya bisa lebih baik atur waktu, aamiin! Oke, tugas kali ini tentang merancang cara kita belajar, membuat design pembelajaran ala kita. Sedikit banyak tentang hal ini udah saya singgung dalam post #NHW4 ( Mendidik dengan Kekuatan Fitrah ). Dalam waktu dekat ini saya terfokus pada penguatan ilmu agama dasar (mengejar ketertinggalan) dan juga ilmu dunia melalui perkuliahan. Hari ini dapet reminder, dari seorang teman tentang suatu hadits yakni, "Seseorang itu dimudahkan melakukan yang untuknya ia diciptakan."(HR Muslim). Saya juga merasakan sendiri, insyaAllah Allah akan memudahkan jalan yang terb...

Nasihat bagi Orang Tua, Sepanjang Waktu

Image
Beberapa hari lalu nemuin tulisan ini, biar ga tenggelam padahal berat banget perkataannya, saya mau dokumentasikan juga disini. Baca, dalami, pahami, jalani, baca lagi, dan seterusnya. "Setiap peristiwa adalah didikan dari Allah, wujud cinta dari-Nya agar kita senantiasa kembali." ===== Anak-anak Rusak karena Kelalaian Orang Tua Dari sekian penyebab kerusakan pada anak dan generasi muda, penyebab utamanya adalah kelalaian orang tua dalam mend idik anak mereka, sehingga ketika anak rusak, nakal atau tidak sesuai harapan. JANGANLAH orang tua menyalahkan orang lain baik guru di sekolah atau yang dianggap merusak dan mempengaruhi anaknya, akan tetapi segera orang tua intropeksi diri mereka Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan, ﺍﻛﺜﺮ ﺍﻷﻭﻻﺩ ﺇﻧﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﺴﺎﺩﻫﻢ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻵﺑﺎﺀ, ﻭﺇﻫﻤﺎﻟﻬﻢ, ﻭ ﺗﺮﻙ ﺗﻌﻠﻴﻤﻬﻢ ﻓﺮﺍﺋﺾ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺳﻨﻨﻪ, ﻓﻀﺎﻋﻮﻫﻢ ﺻﻐﺎﺭﺍ “Kebanyakan kerusakan anak disebabkan karena orangtua mereka, mereka menelantarkannya dan tidak mengajarkan anak ilmu dasar-dasar wajib agama ...

Titik Aman

Image
Ga ada titik aman selama kita masih di dunia.  Ga ada yg bisa menjamin hidayah yg Ia beri bisa kekal membersamai. Karena mempertahankan kesadaran sejatinya lebih berat dan butuh perjuangan tersendiri. Nikmat islam, iman, berhijab, hijrah, apapun itu, bukan pencapaian satu waktu yg didapat maka selesai. Tidak. Hidup tidak semudah itu. Ia senantiasa lihat hati kita, apakah masih layak diberikan hi dayah-Nya. Maka jangan pernah merasa sudah cukup, jangan pernah merasa sudah puas akan ketakwaan dan ilmu. Ust Hanan Attaki menjelaskan, keimanan itu ibarat bertangga-tangga. Keimanan kita tentu beda levelnya dgn Abu Bakar RA. Saat kita boleh jadi masih bermudah-mudah dalam kehalalan bila terlupa atau khilaf, beliau tatkala menyadari menyuap daging yang tak halal lebih memilih memuntahkan isi perut dengan segala cara, sampai yakin benar daging tsb telah keluar, bahkan sampai pingsan beliau dalam prosesnya. Maka berusahalah mendaki tangga selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya....

Merangkai Hikmah dari Tanah Suci

Image
Dulu, waktu SMA, guru matematika favorit saya pernah berkata. "Manusia itu ada empat tipe. Tipe pertama yang paling beruntung, yakni mereka yang tahu kalau mereka tahu. Tipe kedua, mereka ga tahu kalau mereka tahu. Tipe ketiga, mereka yang tahu kalau mereka ga tahu. Dan yang keempat, yang paling celaka, yaitu mereka yang ga tahu kalau mereka ga tahu." Nasihat ini menancap dalam hati saya, terbersit pemikiran bahwa kalau mau memperbaiki diri berarti kita harus sadar dulu kalau ada yang harus diperbaiki, kita harus menerima dulu kalau ada yang masih salah dan tidak sesuai.  Saya ingin sedikit bercerita tentang salah satu pengalaman pembuka mata yang cukup berat untuk diakui. Kilas balik, saat berhaji kemarin, saya terkagum dan takjub atas tumpahan manusia yang luar biasa meninggalkan aneka urusan dunianya semata untuk menjawab panggilan Rabb-Nya, tapi disaat yang sama pula saya ditampar untuk sadar bahwa nyatanya pe-er saya (dan kita) masih banyak. Dan bagi saya haji ini m...

Review Buku Halo Balita

Image
Salah satu kebiasaan saya adalah kalo udah jatuh cinta atau tersentuh hatinya(?) akan manfaat sesuatu, maka ga tahan rasanya kalo ga berbagi cerita. Semoga bisa jadi jalan inspirasi atau bisa ada kebaikan yang diambil ^^ (Jadi jelas ya ini bukan postingan berbayar atau bersponsor, *siapa guee hihi) di perpus kota Berawal di April 2015, sekitar seminggu sebelum Asiyah berusia enam bulan, saya akhirnya 'memberanikan' diri membeli sepaket buku Halo Balita. Kenapa saya bilang butuh keberanian untuk beli buku ini? Pertama, bagi saya sepaketnya ga murah, harus mengalokasikan dana yang cukup besar bagi kami yang sebenernya bisa banget dipake untuk keperluan lainnya (harga saat itu sedang promo jadi 1,9juta, diskon dari harga awal 2.375.000). Walopun kalo dipikir-pikir mah murah-mahal itu relatif banget ya, kalo dibandingin potensi manfaat yang bisa didapat, bisa aja justru hitungannya murah. Dan dipikir-dipikir lagi, dengan ngerem pengeluaran di pos lain, boleh jadi kekumpu...

Menjejak Peristiwa

Image
Benarlah alquran ini kitab mukjizat, bukan hanya tentang kandungan isinya, tapi juga makna tersirat, cara penyampaian, sampai pemilihan katanya mengandung pelajaran. Suatu hari saya mendengar kajian tentang surat Alkahfi (antara dari Mufti Menk atau Ust. Nouman Ali Khan atau keduanya-- semoga Allah berkahi mereka), dan saya tersentak karena mendapat pemahaman baru. Kembali, saya tersungkur akan dahsyatnya alquran. Berapa jumlah pemuda Alkahfi yang berlindung di gua? Tiga? Lima? Tujuh? Nyatanya tidak ada satu pun kita yang bisa yakin menjawab karena memang Ia tidak menyebutkan angka pastinya. Karena tidak disebutkan berarti jumlah disini bukanlah hal yang ingin ditekankan, melainkan fokus ada pada hikmah dan kisahnya itu sendiri. Begitu pula yang saya rasakan terhadap aksi 212 kemarin, tentu estimasi jumlah peserta itu perlu, biar ga dikerdilkan maupun dilebaykan, tapi jangan sampai menggeser esensi dan hikmah dapat dipelajari. Lihatlah, dan lihatlah lebih dalam lagi, mukmin ma...

Serpihan Hikmah di Kampus

Image
Scene 1 "Kamu asalnya darimana?" Teman sebelah saya, wanita asal Swedia bertanya. "Indonesia.." "Oh, saya tahun lalu pertukaran pelajar ( exchange ) ke negara tetangga kamu, Singapura. Saya juga berkunjung ke beberapa kota di Indonesia saat libur. " Saya nyengir lebar seolah bertemu sahabat lama. Di rantau begini, denger ada yang tahu Indonesia aja udah bikin saya seneng, apalagi ketemu yang punya hubungan lebih dalam lagi dengan negara kita. Ia pun mengenalkan saya dengan satu lagi teman asal Swedia yang juga exchange disana, pria muda. "Mmm.. Kalo boleh tahu itu gimana ya asap kok bisa separah itu? Waktu kami disana lagi parah-parahnya, dan itu berbulan-bulan." Nyengir lebar saya meredup seketika. Bayangan mengobrol ringan tentang keindahan Indonesia pupus dan berganti dengan sedikit rasa sesak yang susah didefinisikan. Kami bertiga pun mulai berdiskusi dan saya merasa wawasan mereka luar biasa luasnya, saya malu sendiri, ngerasa ga sed...