Posts

Showing posts with the label cuap-cuap

Mulai Menulis Lagi

Bismillah ya.. Nyatanya aku rindu, menulis lagi. Bukan untuk dirimu, bukan pula untuk mereka. Melainkan untuk diriku sendiri. Sebagaimana nama blog ini. Kumau apa yang kutulis disini sejatinya adalah untuk diriku, karena diriku. Tidak terpengaruh dengan apa ekspektasi orang, tanpa mengharap pujian, tidak peduli dengan membuktikan apapun untuk siapapun. Selain untuk-Nya. Agar menjadi pengingat di masa depan; pengingat nikmat, pengingat pelajaran, pengingat rasa. Syukur-syukur bila yang membaca pun merasa ada manfaat. Maka biarlah aku menulis, untuk diriku. Eindhoven, 17 Januari 2020

Sebaik-baik Sedekah

Kapan terakhir berinfaq pada.... pasangan? atau keluarga? Beberapa kali teman bertanya, merasa kecil hati bahwa dirinya selama ini belum banyak 'bersedekah'. "Aku biasa ngirim segini untuk keluarga, tapi untuk orang-orang lain jarang, kadang abis duluan untuk sekolah adik, atau ini itu." Sungguh aku terkezut. Mereka sudah bersedekah warbiasa banyak (sebenarnya), tapi merasa belum bersedekah samsek karena oh karena bukan disalurkan di lembaga ZIS atau sejenisnya -sedekah yang jauh2 intinya-. Tidakkah kau tahu duhai kakak2 baik hati, bahwa sejatinya tiap rupiah yang kau berikan untuk keluarga juga adalah sedekah? Bahkan sangat mulia dan utama. Bahwa berkali-kali Rasulullah mengingatkan untuk memulai dari yang terdekat. Seringkali mungkin kita berfikir bahwa infaq dan sedekah itu harus sangatlah 'advance', harus yang jauh agar manfaat besar. Betul, tentu sangat mulia memberi pada yang membutuhkan apalagi tidak berkesudahan bencana dan musibah melanda ka...

Keistimewaan Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

Image
Beberapa hari yang lalu, baca curhatan seseorang di IG story tentang tantangan hidup(?) sebagai bumil. Aih, jadi kangen hamil lagi nostalgia. Masa-masa yang romantis, indah, sekaligus juga bisa menguji karena namanya hamil, semudah apapun tetap saja 'wahnan 'ala wahnin' , kelemahan yang bertambah-tambah. Hamil muda, mabok. Hamil tua, susah gerak. Hihihi. Masih inget deh 'rasanya' harus tiap sebentar ke kamar kecil pagi-siang-malam. Belum lagi menjelang melahirkan, bisa kebangun jam 1-2-3 dini hari saking kantung kemih udah tertekan bayi. Mau tidur pun perlu perjuangan cari posisi yang nyaman. Mau pasang kaos kaki sendiri bisa akrobat dulu karena kehalang perut. Belum lagi bentuk tubuh yang berubah drastis bikin selera ngaca berkurang drastis *lebay amat bun, hihi.. Tapii.. Dibalik segala kelemahan, kerempongan, sungguh ada kenikmatan tersendiri. Bila Ia mengizinkan kita untuk menyadari, sungguh ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan. Saya mengangg...

Doa dan Media Sosial

Image
Di zaman informasi serba cepat dan membludak begini, rasanya kita perlu merutinkan doa ini.... Sekarang ini, aneka informasi (baik kita butuhkan ataupun enggak, baik penting ataupun enggak, baik benar ataupun enggak) berebut ingin menjejali pikiran kita. Terutamanya lagi bagi pengguna media sosial. Ah, medsos. Tools yang ternyata ga sesederhana keliatannya. Bisa memberi efek yang lebih besar dari yang dikira. Semoga Allah bimbing selalu.

Wanita itu....

Wanita itu, setelah melahirkan, akan berada di titik terbawahnya, titik terlemahnya. Segentle apapun namanya melahirkan badan ya 'remuk' juga. Paling butuh support, pelukan, bantuan, penguatan. Apalagi ditambah libur solat bisa 40 hari, ruhiyah merosot. Yah, haid seminggu aja begitu mulai ibadah lagi suka kemunduran kan.. Apalagi 6 minggu.. Wanita itu, setelah melahirkan, akan ter-reset lagi jiwanya. inner child muncul seperti mereview kembali hari demi hari dari awal kejadiannya. Kesempatan dari Allah untuk membetulkan kembali alur-alur syaraf yang kadung tebal dibagian yang tidak tepat. Jadi butuh penyikapan yang peka dan khusus. Orang-orang terdekat, khususnya suami, mendapatkan kesempatan emas beramal sholeh dalam membesarkan dan menentramkan hati para ibu.  Orang-orang terdekat, khususnya suami, mendapat kesempatan besar mengokohkan jiwa ibu.  Orang-orang terdekat, khususnya suami, mendapatkan kesempatan besar mendidik para ibu.  Tanpa bantuan dari s...

Apa yang Berbeda?

Image
Seharusnya saat ini saya menyiapkan diri untuk ujian esok lusa; membaca paper, mendengar audio  pelajaran, latihan soal. Sayangnya seperti biasa, mata ini suka berat alias ngantuk tiap sekian menit #hehe, jadi marilah ketak-ketik sejenak disini. source Kurang lebih dua bulan saya jadi anak kuliahan lagi, master student di Chalmers University of Technology- Gothenburg, Swedia, jurusannya Management and Economics of Innovation (biasa disingkat MEI). Disini kuliahnya dibagi per quarter yang disebut study period, jadi dalam satu semester ada dua study period. Tiap study period isinya dua atau tiga mata kuliah. Study period pertama dan kedua isinya paket wajib, udah ditentukan dari jurusan, selebihnya kita bisa pilih sendiri (beberapa ada pilihan dari list yang ditentukan, beberapa benar-benar bebas mau ambil apa aja). Dari dua mata kuliah di study period ini, satu mata kuliah sudah tuntas alhamdulillah, baru aja penyerahan home exam pagi ini namanya 'Managing Development Pro...

Melahirkan Normal Vs. Sesar

Akhir-akhir ini saya lagi suka menyelam ke arsip draft saya yang membludak. Begitu banyak postingan setengah jadi yang ga jelas masa depannya, hehe. Nah, daripada terkubur aja mending (salah satunya) saya post. Jangan bingung ya kalo kondisinya udah ga relevan dengan saya sekarang. Dalam postingan berikut, ini ditulis waktu saya lagi kebawa hormon misuh-misuh ibu hamil (paling enak emang nyalahin hormon hihi), saat saya lagi hamil 8 bulan. ----------------------------------------------------------------------------------------------------- Gothenburg. September, 2014 Saya beberapa kali ditanya, "mau lahiran normal apa sesar?" Pertanyaan yang membuat saya harus diam beberapa detik untuk kemudian merangkai kata-kata yang tepat untuk menjawab. Bukan, bukan karena saya bingung dengan jawabannya, tapi karena ada begitu banyak hal yang mau saya "semprot" terkait pertanyaan itu. Bagi saya, melahirkan normal atau sesar itu bukan pilihan, it's not a choice . M...

menikah muda?

mungkin bermanfaat untuk yang sedang bergalau ria. "kalau emang merasa belum siap atau belum mau untuk menikah, jangan coba2 mendekat. lebih baik siapkan diri hingga waktunya tiba. yang utama itu bukan nikah mudanya, tapi mendekat ke Allahnya. kan ga di tiap kondisi menikah muda itu baik (baca lagi hukum2 menikah; mulai dari wajib sampai haram). jaga niat kita only to please Allah , kalo kita terus mempersiapkan diri, khususnya ilmu2 agama, nanti Allah yg atur semuanya. hati kita pun Allah yg pegang. tugas kita cuma ikhtiar, doa, dan tawakal. kalo kata orang si wanita itu dilihat dari masa lalunya, sedangkan laki2 dari masa depannya.. so jaga diri sebaik2nya, siapkan diri jadi pendidik generasi pembaharu nantinya." nikmati dan manfaatkan waktu yang ada untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya. ketahuilah bahwa janji-Nya pasti :)

Ini tentang amar ma'ruf nahi mungkar.

Sekarang ini sering saya mendengar ungkapan orang-orang yang tidak tertarik dengan pemilihan umum, mulai dari skala nasioanl sampai skala kampus. Memang, semua yang ada dalam hidup itu pilihan. Dan mereka memilih untuk tidak memilih. Tidak ada yang salah, selama mereka juga harus siap menerima untuk tidak diterima keluhannya nanti. Tentu saja ini subjektif dalam pandangan saya. Mereka yang diam, tidak peduli dengan siapa yang akan memimpinnya, berarti 'mendukung' (atau dengan kata lain membiarkan) siapa pun yang terpilih. Dan apakah pantas, mereka kelak mengomentari atau mencaci seseorang yang sebelumnya tidak mereka pedulikan? * Hanya menyadarkan, saat kita memilih untuk tidak memilih, artinya kita harus siap untuk kehilangan hak 'berkata pedas' seolah ada hak kita yang tercerabut saat suatu hari pemimpin kita itu melakukan hal yang tidak kita senangi. Sedangkan kalau kita memilih; Bila yang kita pilih menang tentunya kita punya "hak" yang patut ditun...