Posts

Showing posts with the label bercermin

Merangkai Hikmah dari Tanah Suci

Image
Dulu, waktu SMA, guru matematika favorit saya pernah berkata. "Manusia itu ada empat tipe. Tipe pertama yang paling beruntung, yakni mereka yang tahu kalau mereka tahu. Tipe kedua, mereka ga tahu kalau mereka tahu. Tipe ketiga, mereka yang tahu kalau mereka ga tahu. Dan yang keempat, yang paling celaka, yaitu mereka yang ga tahu kalau mereka ga tahu." Nasihat ini menancap dalam hati saya, terbersit pemikiran bahwa kalau mau memperbaiki diri berarti kita harus sadar dulu kalau ada yang harus diperbaiki, kita harus menerima dulu kalau ada yang masih salah dan tidak sesuai.  Saya ingin sedikit bercerita tentang salah satu pengalaman pembuka mata yang cukup berat untuk diakui. Kilas balik, saat berhaji kemarin, saya terkagum dan takjub atas tumpahan manusia yang luar biasa meninggalkan aneka urusan dunianya semata untuk menjawab panggilan Rabb-Nya, tapi disaat yang sama pula saya ditampar untuk sadar bahwa nyatanya pe-er saya (dan kita) masih banyak. Dan bagi saya haji ini m...

Mencari Permata

Image
"Maafkan, lapangkan dada. Karena manfaat pertama dari maaf bukanlah untuk yang dimaafkan, melainkan damainya hati sang pemaaf. Dendam adalah menenggak racun ke mulut sendiri, lalu berharap orang lain yang mati. Tapi janganlah kita keliru tangkap ketika ada yang menghadiahkan kata-kata tak mengenakkan. Sering kali kita mengiranya sebagai kedengkian sesama, padahal justru ia adalah cinta, kepedulian, dan ketulusan yang berhimpun dalam nasehat yang berjuta rasa. Nasehat itu permata. Baik diselipkan ke saku, digenggamkan ke tangan, ataupun ditimpukkan ke muka, ia tetaplah permata. Ambil permatanya. Sebab ia jauh lebih mudah daripada mencarinya sendiri ke kedalaman bumi. Kalau kita merasa sakit tiap kali diberi nasehat, mungkin justru hati kita yang perlu dirawat inap. Ah iya. Sebenarnya semua nikmat akan mengundang rasa dengki, kecuali nikmat menjadi pribadi rendah hati. Dan sebenarnya semua bencana akan mengundang rasa iba, kecuali bencana menjadi orang sombong lagi menepuk d...

Untuk Gadis Kecil Pemberani

Apa yang kamu cari, wahai gadis kecil? Sudah puaskah bermain dan berlari? Sudah letihkah kamu menari dan bersembunyi? Aku tahu, begitu banyak yang hendak kau tumpahkan, Aku tahu, begitu banyak isak tangis yang kau rahasiakan, Aku tahu, begitu banyak serapahmu pada dunia, Tapi.. Sepertinya kamu lupa, Mulut diciptakan untuk bicara, katakanlah baik-baik, kami akan mendengarkan, Sepertinya kamu lupa, Sejauh apa pun kau melangkah, Ia selalu melihat-Mu, tak pernah lengah walau sekejap, Sepertinya kamu lupa, Bahwa kamu, sesungguhnya, begitu dicintai.. Kembalilah, sayang, tinggalkan mereka yang membuatmu menjauh dari-Nya, Semarah apapun kamu, jangan sekali-kali jadi manusia ingkar, sungguh akan jadi penyesalan di waktu kemudian, Seberat apapun persoalan hidup terasa, jangan sekali-kali meninggalkan-Nya, tidak akan membaik urusan dunia tanpa keridhaan-Nya. Kembalilah, sayang, kami disini rindu mendekapmu kembali.. _menunggu saat yang tepat untuk membersamaimu_

dengarlah wahai diriku..

tak perlu menjadi langit, jika kau benci dengan tinggi tak perlu menjadi api, jika kau tak kuat dengan panas tak perlu menjadi air, jika kau tak suka ‘hanya mengalir’ tak perlu menjadi angin, jika kau ingin ‘terlihat’ sejatinya, kau istimewa tanpa harus menjadi yang lain lihat dirimu, lihat hatimu dimanakah kau merasa paling bahagia? maka lakukanlah karena hanya dengan menjadi bahagia kau bisa menyebarkan kebahagiaan mungkin awalnya bisa kau paksakan untuk memberi bahagia dgn menyiksa diri tapi percayalah, hanya soal waktu untuk dirimu terluka dan menuntut haknya maka pikirkanlah, maka rasakanlah dimana kau harusnya berada? siapa kau harusnya menjadi? 17 Februari 2012, 07:56