Posts

Showing posts with the label mutiara hikmah

Sebaik-baik Sedekah

Kapan terakhir berinfaq pada.... pasangan? atau keluarga? Beberapa kali teman bertanya, merasa kecil hati bahwa dirinya selama ini belum banyak 'bersedekah'. "Aku biasa ngirim segini untuk keluarga, tapi untuk orang-orang lain jarang, kadang abis duluan untuk sekolah adik, atau ini itu." Sungguh aku terkezut. Mereka sudah bersedekah warbiasa banyak (sebenarnya), tapi merasa belum bersedekah samsek karena oh karena bukan disalurkan di lembaga ZIS atau sejenisnya -sedekah yang jauh2 intinya-. Tidakkah kau tahu duhai kakak2 baik hati, bahwa sejatinya tiap rupiah yang kau berikan untuk keluarga juga adalah sedekah? Bahkan sangat mulia dan utama. Bahwa berkali-kali Rasulullah mengingatkan untuk memulai dari yang terdekat. Seringkali mungkin kita berfikir bahwa infaq dan sedekah itu harus sangatlah 'advance', harus yang jauh agar manfaat besar. Betul, tentu sangat mulia memberi pada yang membutuhkan apalagi tidak berkesudahan bencana dan musibah melanda ka...

Catatan dari Kajian Teh Haneen Akira - Baperan

Image
"sifat walinya Allah, mereka ga takut. laa khauf." "semua orang punya hati, tapi ga semua orang hatinya hidup." "ketika kita menghargai alquran, Allah hargai kita. ketika kita memuliakan alquran, Allah muliakan kita. ketika kita menjaga diri dengan ayat-ayat alquran, Allah yang jaga kita. kalau kita melupakan alquran, lihat saja bagaimana alquran melupakan kita. ketika kita abaikan alquran, boleh dicoba bagaimana rasanya Allah mengabaikan kehidupan kita." "barangsiapa yang berpaling dari dzikrurabbi (alquran), maka ia akan memiliki kehidupan yang sangat sempit. barangsiapa yang berpaling dzikrurrahman (Allah), isi hatinya cuma baper/perih/pedih." "karena yang disini (hati), butuh alquran. yang disini (hati) bisa tumbuh, bisa segar, bisa menemukan habitatnya dengan alquran. yang mengerti keagungan alquran maka ga akan pernah meninggalkan alquran. yang mengerti manfaat, keberkahan, kebaikan alquran, maka ia tidak akan pernah tin...

Memaknai Hari Tua, Mengenang Oma Nurma

Image
Tepat sebelas tahun yang lalu, 22 April 2007, satu sosok istimewa dalam hidup kami, berpulang menghadap-Nya. Ialah nenek kami tercinta, Oma Nurma, ibu dari Mama. Sebelas tahun, dan rasanya masih jelas memori kebersamaan yang begitu menghangatkan. Sebelas tahun, dan rasa cinta yang beliau tanamkan masih sanggup mendorong hati ini melangitkan doa kapan saja teringat akan beliau. Sebelas tahun, yang terasa seperti baru saja. Ya Rabb, ampunilah Oma, berilah tempat ternyaman bagi Oma.. Oma adalah pemberi pelukan pada saat-saat dibutuhkan. Oma adalah pemberi inspirasi tanpa beliau bahkan menyadari. Oma adalah perekat banyak jiwa dengan ketulusan dan kebersihan hatinya. Empat belas tahun Oma membersamai hidup saya, mengisi jiwa sampai masa  baligh  tiba. Oma bukan lah sosok yang punya segudang 'prestasi dunia', apalagi jabatan. Bahasa Indonesia pun Oma ga lancar ( alhamdulillah berkat beliau cucu-cucunya jadi belajar bahasa minang). Oma ga terikat pekerjaan apapun, jabata...

Jangan Pernah

Kalo ngeliat ada orang ngelakuin sesuatu yang kita rasa belum pas, salah, maksiat sekalipun. Jangan dicap lebih rendah dari kita. Kita ga pernah tahu, boleh jadi di akhir usia nanti ia lebih mulia, atau justru saat ini. Inget, orang masuk surga bukan karena hebatnya amalan. Tapi karena rahmat Allah . Kita ga tahu Allah ridha sama siapa. Jangan ngerasa udah cukup baik dengan amalan yang bahkan belum ada jaminan akan menghindarkan dari neraka. Kita hanya diselamatkan dari satu dosa yang ditampakkan, boleh jadi kesalahan kita di mata Allah lebih fatal. Fokus sama diri sendiri. Besarkan kesalahan diri sendiri di mata kita. Jangan melulu yang dirisaukan bagiannya orang lain. Sedangkan yang paling bisa kita ubah ya diri sendiri. Coba dirasa lagi, apa benar kita merespon udah karena cinta dan peduli? Kalo iya, seminimalnya pasti akan kita masukin dalam doa. Urusan akhirat, targetkan dan lihat terus yang lebih diatas. Udah Allah kasih kemudahan ngaji, tingkatkan takwa dengan perbaiki...

Perbincangan Jiwa; Pendakian Kehidupan #2

Hidup ini perjalanan. Menuju puncaknya, dekat dengan Sang Pencipta. Jalannya mendaki, ada tingkatan-tingkatan. Tiap tingkatan, ada anginnya tersendiri. Angin di akar, tentu beda dengan angin di dahan. Angin itu bukan untuk membuat kita jatuh, melainkan justru agar kita lebih kuat. Agar kualitas diri meningkat. Ada yang cepat naik keatas. Melesat. Ada juga yang lama berputar-putar saja di satu titik. Atau malah terjerembab. Jatuh. Sekalipun terjatuh, belum waktunya untuk menyerah. Selama masih ada nafas, bangkit lagi. Daki lagi. Renungi apa-apa saja yang melemahkan diri. Yakinkanlah, setiap ujian selesai, akan ada kenikmatan. Ini keniscayaan. Kalau kau ingin jadi baik, percayalah, Ia jauh lebih ingin kau jadi baik. Kalau kau ingin berubah, percayalah, Ia jauh lebih ingin kau berubah. Kalau kau ingin segera sampai puncak, percayalah, Ia lebih rindu kau segera mendekat. Kumpulkan hikmah dari tiap peristiwa. Kokohkan langkah. Jernihkan pandangan. Ah, inila...

Perbincangan Jiwa #1

ya, namanya juga belajar. salah ya wajar. bangkit lagi. ga usah peduli bisikan yang melemahkan. selama masih ada nafas, artinya Allah masih kasih kepercayaan untuk kembali. catat, apa-apa lagi yang perlu diperbaiki, dicermati untuk lain kali. selebihnya, lepaskan. tidak perlu larut dalam penyesalan. kita manusia, ga dicipta untuk sempurna. dan pada akhirnya, kejadian apapun yang mengingatkan hakikat kita sebagai hamba, yang bikin kita jadi inget lemahnya diri lantas mengemis pada-Nya, yang bikin kita jadi menyadari kesalahan lantas berupaya memperbaikinya.... adalah anugerah. :) "Your life is nothing more than a love story. Between you and God. Nothing more. Every person, every experience, every gift, every loss, every pain is sent to your path for one reason and one reason only: to bring you back to Him." -Yasmin Mogahed

How to stay mindfully happy

Kurang lebih begini hasil perenungan sampai saat ini= - Ingat kebaikan orang lain, sekecil apapun. - Hindari prasangka buruk. Tidak memikirkan apa yang tidak perlu. - Kalau melihat keburukan, benci perilakunya, bukan orangnya. Kita ga pernah tahu apa yang akan terjadi di detik selanjutnya. Boleh jadi orang yang saat ini bermaksiat, esok lusa mendapat hidayah dan ternyata adalah ahli surga. - Dilindungi dari dosa besar bukan berarti aman. Berhati-hati terhadap dosa hati. Jauhi riya, ujub, ingin didengar kebaikannya, ingin dipuji, ingin dilihat baik. - Tawadhu. Cari celah merasa orang lain lebih baik daripada kita. - Budayakan istighfar. Atas kesalahan yang kita lakukan baik disadari maupun tidak disadari, juga terhadap kesalahan belum melakukan apa yang seharusnya dilakukan, baik disadari maupun tidak disadari. Pasti ada salahnya. Kalau ngerasa bebas dari kesalahan, itu aja udah salah. - Senyum. Senyum adalah sedekah. Apa sih poin sedekah? Sedekah bikin orang lain senang. Senyum...

Morning Thoughts

To get exicted over something, even over a simple thing like thinking about your (hopefully productive) to-do-list today, is a blessing.. Yeah, I knew the days when life was just like a bunch of meaningless routines. Wake up unenergized and waiting when the night would come again. A phase in life that helps me to be more grateful for any good days in life. So, any excitement, is trully a gift. When I think it deeply, the ability to recognize positive feelings depends on our condition of imaan. And our imaan depends heavily on our interactions with quran . In other words, the calming, energizing, positive, willing-to-be-productive feeling has strong relationship with our interaction with quran. Amazing. MasyaAllah.. May Allah guide us always and give us tranquility everyday. Gothenburg, 6 August 2017, _Morning,my favorite time of the day_

Yang lebih samar dari langkah semut

yang paling bahaya itu, justru apa yang ga keliatan. pengen dilihat orang lain baik, pengen dipuji, terlalu peduli apa kata orang, ngelakuin sesuatu bukan semata karena Allah. susah, susah banget emang. rasanya nikmat besar banget bisa punya ketulusan ngelakuin sesuatu cuma peduli sama apa kata Allah. Riya', Sum'ah, lebih samar dari langkah semut. Semoga kita termasuk yang selamat. Sekalipun terjatuh, semoga bisa bangkit lagi, taubat lagi, mulai lagi. Bismillah.. "Ia bersama persangkaan hamba-Nya." "Minta apa-apa ke Allah, sekalipun sendal yang putus." "Hati yang tenang, karena tahu Allah Maha Kuasa." **** Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengkhawatirkan bahaya riya’ atas umat Islam melebihi kekhawatiran beliau terhadap bahaya Dajjal. Disebutkan dalam sabda beliau:  “Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada Dajjal.” Kami menyatakan, “Tentu!” beliau bersabda “Syirik khafi (syirik...

Tabiat Hati

Khusyuk. Mindful. Positive feeling. Tenang. Lagi-lagi konsep 'dekat', ada di agama ini, tapi harus memutar jauh dulu bagi saya untuk terbantu sedikit memahaminya. _Belajar sepanjang waktu_ ps: selalu suka blognya psikolog fitri ini; https://fitriariyanti.com/2017/04/12/preparing-ramadhan-mindful-or-mind-full/

Tentang TV

Image
Pagi ini lihat status FB Bunda Kaska tentang TV (saya kutip di bagian bawah), lalu jadi ingat salah satu refleksi diri yang saya lakukan jauh sebelum menikah. Jauh sebelum banyak tokoh parenting atau ahli perkembangan anak menghimbau (bahkan dengan tegas melarang sampai usia tentu) pemaparan TV pun gadget ke anak, saya udah duluan membulatkan hati tentang ini. Cukup refleksikan, kontemplasi, ke hidup sendiri, ke pengalaman pribadi. TV itu ngasi pengaruh baik atau buruk? Saya dulu saat kecil suka 'menandai masa', tiap perasaan atau pemikiran di masa itu saya ingat dengan sadar, dijadikan pelajaran untuk kalau sudah besar nanti. Salah satunya perihal TV. TV, sebagaimana pisau, maupun benda lain seperti peniti, bisa baik kalau sesuai cara penggunannya, dan bisa buruk kalau ga sesuai cara penggunaannya. Bisa baik kalau kontrol ada di tangan kita, dan bisa buruk kalau diri kita yang diatur sama mereka. Mungkin bisa TV jadi baik kalau digunakan sebagai pengganti layar laptop ...

Nasihat bagi Orang Tua, Sepanjang Waktu

Image
Beberapa hari lalu nemuin tulisan ini, biar ga tenggelam padahal berat banget perkataannya, saya mau dokumentasikan juga disini. Baca, dalami, pahami, jalani, baca lagi, dan seterusnya. "Setiap peristiwa adalah didikan dari Allah, wujud cinta dari-Nya agar kita senantiasa kembali." ===== Anak-anak Rusak karena Kelalaian Orang Tua Dari sekian penyebab kerusakan pada anak dan generasi muda, penyebab utamanya adalah kelalaian orang tua dalam mend idik anak mereka, sehingga ketika anak rusak, nakal atau tidak sesuai harapan. JANGANLAH orang tua menyalahkan orang lain baik guru di sekolah atau yang dianggap merusak dan mempengaruhi anaknya, akan tetapi segera orang tua intropeksi diri mereka Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan, ﺍﻛﺜﺮ ﺍﻷﻭﻻﺩ ﺇﻧﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﺴﺎﺩﻫﻢ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻵﺑﺎﺀ, ﻭﺇﻫﻤﺎﻟﻬﻢ, ﻭ ﺗﺮﻙ ﺗﻌﻠﻴﻤﻬﻢ ﻓﺮﺍﺋﺾ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺳﻨﻨﻪ, ﻓﻀﺎﻋﻮﻫﻢ ﺻﻐﺎﺭﺍ “Kebanyakan kerusakan anak disebabkan karena orangtua mereka, mereka menelantarkannya dan tidak mengajarkan anak ilmu dasar-dasar wajib agama ...

Tentang Anak..

Image
Nasihat berharga siang ini, dari Bunda Kaska, === Bismillaah Didiklah anak perempuan untuk percaya diri sebagai MUSLIMAH. Bahwa wanita itu ga usah centil. Ga ada yg harus dipamerkan demi mendapat perhatian siapapun atau demi mendapatkan apapun. Ga ada yg harus dipikirkan berlebih2an mengenai fisik yg mgkn tidak ssuai dengan standar orang kebanyakan. Senantiasa ajarkan bersyukur atas smua kondisi yg diberikan Allah baik fisik maupun batin. Sehingga anak tidak menjadi wanita2 galau yg hanya memikirkan gmn cara menjadi cantik putih tinggi langsing berambut lurus atau aneka trend menyesatkan. Senantiasa "doktrin"kan mengenai hijab, akhlak, cara bergaul dengan perempuan dan laki2 yg jelas batasannya, tekankan itu semua perintah Allah dan RasulNya maka tidak ada tawar menawar. Sehingga anak saat baligh tidak terjebak berfikir bahwa hijab itu menunggu hidayah, boleh ditunda, apalagi menganggap itu pilihan. Juga tidak terjebak pada cinta2 hawa nafsu yg tidak pada tempatn...

Iya, semua akan kembali

Image
Tiap kesalahan, maksiat, dosa yang kita lakukan akan kembali pada kita. Selama kita ga bertaubat. Berkali-kali Ia bilang, bahwa segala kesusahan hidup itu akibat perbuatan tangan kita sendiri. Iya, akan kembali semuanya. Maka, sebelum kita menuntut Allah untuk mengangkat segala kesulitan kita atau memaksa-Nya menjawab segala permintaan kita secepat mungkin, coba kita refleksikan lagi, sudah supatuh apa kita sama aturan-Nya. Adakah dosa yang kita belum sadari? Belum ditaubatin, belum di move-on in.. Apakah ada kemalasan mencari ilmu yang sudah Ia wajibkan untuk dicari tahu? Masih kah ada yang Ia larang tapi kita lakukan dengan sengaja? Atau masihkah ada hal-hal abu-abu, yang belum jelas bagi kita apa hukumnya, tapi kita abai dalam mencari tahu, dan masih kita lakukan? Karena agama ini bukan hanya tentang ibadah, tapi tiap manusia yang baligh dan bersyahadat dengan kesadaran, sudah seharusnya giat mencari tahu tentang hal sedasar boleh dan tidak, sedasar halal dan haram. Baik itu s...

Happy news

Image
Hari ini video call sama salah satu teman lama, yang sudah balik for good ke Indonesia. Rasanya seneeng, kangen banget. Selalu nyaman ngobrol sama beliau, adem hati rasanya. Dulu saya sering banget main ke rumahnya, atau beliau yang ke rumah. Ah, rasanya kalo ada beliau maka ga akan kesepian. Friendly, Sisterly(?), dan tuluus banget. Saya sangat merasa kehilangan saat beliau pulang ke tanah air. Tapi.. ada bahagia lain, saat beliau mengabarkan sedang dalam jalan hijrah, memperbaiki diri dengan kesadaran dan percepatan. Beliau menceritakan kisah hijrahnya sambil menitikan air mata bahagia, ya, saya bisa melihat ketulusan itu, sekali lagi, di matanya. Saya jadi iri. Iri banget. Gimana beliau bisa merasakan lebih mendalam terhadap apa-apa yang selama ini saya taken for granted. Ya Rabb... Saya iri, sama bagaimana ia dapat dengan mudah meneteskan air mata saat mengingat-Nya.. Saya iri, sama bagaimana ia menghargai tiap ilmu yang baru ia dapatkan, dan bersegera mengimplementasikannya. S...

Titik Aman

Image
Ga ada titik aman selama kita masih di dunia.  Ga ada yg bisa menjamin hidayah yg Ia beri bisa kekal membersamai. Karena mempertahankan kesadaran sejatinya lebih berat dan butuh perjuangan tersendiri. Nikmat islam, iman, berhijab, hijrah, apapun itu, bukan pencapaian satu waktu yg didapat maka selesai. Tidak. Hidup tidak semudah itu. Ia senantiasa lihat hati kita, apakah masih layak diberikan hi dayah-Nya. Maka jangan pernah merasa sudah cukup, jangan pernah merasa sudah puas akan ketakwaan dan ilmu. Ust Hanan Attaki menjelaskan, keimanan itu ibarat bertangga-tangga. Keimanan kita tentu beda levelnya dgn Abu Bakar RA. Saat kita boleh jadi masih bermudah-mudah dalam kehalalan bila terlupa atau khilaf, beliau tatkala menyadari menyuap daging yang tak halal lebih memilih memuntahkan isi perut dengan segala cara, sampai yakin benar daging tsb telah keluar, bahkan sampai pingsan beliau dalam prosesnya. Maka berusahalah mendaki tangga selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya....

Merangkai Hikmah dari Tanah Suci

Image
Dulu, waktu SMA, guru matematika favorit saya pernah berkata. "Manusia itu ada empat tipe. Tipe pertama yang paling beruntung, yakni mereka yang tahu kalau mereka tahu. Tipe kedua, mereka ga tahu kalau mereka tahu. Tipe ketiga, mereka yang tahu kalau mereka ga tahu. Dan yang keempat, yang paling celaka, yaitu mereka yang ga tahu kalau mereka ga tahu." Nasihat ini menancap dalam hati saya, terbersit pemikiran bahwa kalau mau memperbaiki diri berarti kita harus sadar dulu kalau ada yang harus diperbaiki, kita harus menerima dulu kalau ada yang masih salah dan tidak sesuai.  Saya ingin sedikit bercerita tentang salah satu pengalaman pembuka mata yang cukup berat untuk diakui. Kilas balik, saat berhaji kemarin, saya terkagum dan takjub atas tumpahan manusia yang luar biasa meninggalkan aneka urusan dunianya semata untuk menjawab panggilan Rabb-Nya, tapi disaat yang sama pula saya ditampar untuk sadar bahwa nyatanya pe-er saya (dan kita) masih banyak. Dan bagi saya haji ini m...

Mengajarkan Alquran Sejak Dini Pada Balita

Image
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17). Benarlah alquran ini kitab mukjizat, berjuta orang sudah dan sedang menghafalnya di seluruh dunia, tak terkecuali anak -anak. Karena sesuai janji-Nya, alquran telah Ia mudahkan bagi kita untuk dipelajari.  Ceritanya Asiyah (sekarang 25 bulan), alhamdulillah cukup menonjol di bidang verbal. Ia senang sekali dengan kata-kata. Mulutnya ga bisa berhenti entah itu ngoceh, nyanyi, atau ngunyah(?).   Setelah dia sudah bisa merangkai nada, dia suka menyanyi sendiri saat lagi main. Suatu hari saya membatin, "Andai ya nak, yang keluar dari mulutmu bukan hanya nyanyian, tapi juga alquran yang secara spontan terucap saat kamu bergumam.."   Sebenarnya saat itu Asiyah sudah cukup hafal beberapa surat dari murotal yang dipasang, tapi baru 'bunyi' kalau diminta, itu pun bergantung mood . Biar mimpi itu ga sekedar angan, saya coba bikin program. Menging...

Menjejak Peristiwa

Image
Benarlah alquran ini kitab mukjizat, bukan hanya tentang kandungan isinya, tapi juga makna tersirat, cara penyampaian, sampai pemilihan katanya mengandung pelajaran. Suatu hari saya mendengar kajian tentang surat Alkahfi (antara dari Mufti Menk atau Ust. Nouman Ali Khan atau keduanya-- semoga Allah berkahi mereka), dan saya tersentak karena mendapat pemahaman baru. Kembali, saya tersungkur akan dahsyatnya alquran. Berapa jumlah pemuda Alkahfi yang berlindung di gua? Tiga? Lima? Tujuh? Nyatanya tidak ada satu pun kita yang bisa yakin menjawab karena memang Ia tidak menyebutkan angka pastinya. Karena tidak disebutkan berarti jumlah disini bukanlah hal yang ingin ditekankan, melainkan fokus ada pada hikmah dan kisahnya itu sendiri. Begitu pula yang saya rasakan terhadap aksi 212 kemarin, tentu estimasi jumlah peserta itu perlu, biar ga dikerdilkan maupun dilebaykan, tapi jangan sampai menggeser esensi dan hikmah dapat dipelajari. Lihatlah, dan lihatlah lebih dalam lagi, mukmin ma...

Menjejak Langkah

Image
Biarlah tulisan ini menjadi bukti akan keberpihakan saya. Kecil, insignifikan, ga berarti, sebagaimana air yang dibawa semut untuk memadamkan api Nabi Ibrahim AS, tapi biarlah, biarlah semoga dengannya kelak menjadi pembela.  Ga bisa dipungkiri ada iri saat melihat barisan putih itu aksi di jalan, terlepas masalah fiqih demonstrasi (yang saya ga ada ilmu tentang itu), saya dapat membayangkan rasanya ada dalam barisan itu; barisan yang saling bergandeng tangan dalam bingkai lillah .  Perjalanan beberapa bulan lalu, saat berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina saat berhaji cukup membuat air mata saya meleleh. Saat dimana manusia berduyun-duyun, tanpa peduli latar belakang, berjalan beriringan menyebut nama-Nya, mengharap keridahaan-Nya, dalam panji-panji (negara) berbeda tapi satu dalam barisan. Di momen itu saya dapat merasakan keindahan ukhuwah, dalamnya rasa persaudaraan, mahalnya rasa bersatu dalam kehambaan. Ya Rabb, ga kuat hati ini, rasanya seperti bertemu denga...